Senin, 21 Mei 2012

Senin


Hari Senin,,_




Setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk menikmati hari senin. Ada yang bangun telat, ada yang tetap semangat ketika bangun, ada juga yang takut untuk mengawali pagi hari. Konon bagi orang yang berada pada daerah padat penduduk, hari senin di anggap hari telat sedunia. Ada juga yang mengakatan hari senin adalah hari yang menyebalkan (kecuali pada hari ini hari gajian). Banyak juga yang berusaha membuat  moodnya kembali seperti biasa dengan mendengarkan lagu-lagu favorit, berusaha dengan mengawali dengan senyuman—walupun dengan sedikit terpaksa. Bahkan anak sekolah sendiri juga ada yang menyatakan malas sekolah dihari Senin—karena liburnya masih lama.

Semua bisa berpendapat sesuai apa yang mereka rasakan. Andai saja hari libur Minggu diganti pada hari Senin, kemudian hari selasa lah yang menjadi pengganti setelah hari libur, tetap saja anggapan itu tidak akan berubah. Hari Selasa yang menjadi hari segalnya bagi mereka. Tetapi juga, ada sebagian besar orang yang menyambut suka cita dengan kehadiran hari Senin.

Setiap hari sesungguhnya adalah hari yang baik, tapi itu semua tergantung pada individu yang menjalani. Bagaimana orang itu mampu membangkitkan rasa semangat di pagi hari, bisa mensugesti diri sendiri agar berpikir positif dan penuh semangat—dan bagaimana niat awal kita tiap menjalani tugas, pekerjaan kita sehari-hari. Maka dari itu, hargai waktu yang ada saat ini. Selamat menjalani hari senin dengan cara terbaik-mu!
***
Pada masa sekolah dulu—yaitu ketika hari senin ada tradisi upacara. Bukan hanya disekolah saja. Instansi pemerintahan, Hari Besar Nasional juga di adakan Upacara. Kembali kepada masa sekolah. Dahulu ketika menginjak bangku Sekolah Dasar—saya sering mendapat tugas upacara bendera. Ketika masih kecil, saya merasa itu adalah tanggung jawab—sebisa mungkin melaksanakan tugas itu dengan baik dan sempurna tanpa kesalahan (maklum anak-anak). Setiap pagi ketika, akan menjadi petugas upacara perasaan pasti dagdigdug seperti ada yang bermain-main dalam denyut jantung. Terbiasa mendapat tugas terbawa sampai tingkat SMP dan SMA. Dari seluruh tugas yang pernah ada. Seingat saya tugas yang tidak pernah saya lakukan adalah membawa teks Pancasila dan membaca doa.

Selain dari itu sudah menjadi makanan saya tiap minggunya. Sampai saya merasa di titik jenuh mendapat tugas kemudian saya protes dengan dalih, sesekali berbagi tugas dengan yang lain. Biar yang lain juga bisa merasakan dan dapat menunjukan tanggung jawabnya dengan baik. Tugas yang paling saya sukai ketika itu adalah pemimpin upacara dan petugas bendera. Alhasil—walaupun saya hanya sampai pada Tingkat Kabupaten tapi saya bangga bisa menjadi Purna Paskibraka Kabupaten Kepulauan Riau kala itu.




Di ambil dari Tahun 2002

Saat ini—ada beberapa orang teman yang berprofesi menjadi guru.Tentu saja seorang guru adakalanya mendapat giliran menjadi Pembina Upacara. Waktu itu saya melihat status teman saya itu pada sebuah jejaring sosial (facebook) menyatakan rasa dagdigdugnya ketika esok hari akan menjadi Pembina upacara untuk pertama kalinya. Ternyata inilah sebuah kenyataan. Tidak saja anak Sekolah Dasar yang merasa dagdigdug ketika akan menjadi petugas upacara. Menjadi Pembina Upacara ternyata juga sama dagdigdugnya. Inilah sebuah cerminan yang ada dalam kehidupan sehari-hari, “Semua akan menjadi biasa karena telah terbiasa”.
***


Posting Komentar