Senin, 21 Mei 2012

mimpi dan impian


Kehidupan adalah sebuah perjalanan.  Kenyataan ada secara alamiah. Proses perubahan dalam kehidupan untuk meraih kenyataan sesuai dengan impian memiliki harga tersendiri. Harus mampu bertahan dan konsisten, menunjukan kegigihan dan pantang menyerah. Potret kehidupan tergambar nyata. Ilustrasi kehidupan yang paling hakiki adalah milik Allah SWT. Manusia mampu menuliskan segala keinginan serta impian hari esok. Sesungguhnya itu adalah mimpi dalam sebuah angan. Mewujudkan adalah proses. Dimana hasil dari sebuah proses itu adalah jawaban dari mimpi. Saya ingin sekali bisa menulis. Tentang apa saja, sesuai apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dialami sendiri.

Menulis bisa merupakan hobi, pekerjaan, kebiasaan dan ada yang beranggapan keharusan (kewajiban). Dari menulis juga sebagian besar bisa memiliki penghasilan yang cukup bahkan jauh lebih dari itu. Tetapi, ada yang benar-benar mempergunakan menulis untuk mengeluarkan seala beban yang ada semata. Terutama juga pengalaman, banyak yang bisa kita ambil dari menulis. Saya sangat baru untuk menulis. Saking barunya saya harus banyak membaca dan menemukan minat saya yang sesungguhnya. Traveling salah satu yang paling menarik saat ini. J

Saya sendiri memiliki pandangan tersendiri tentang dunia menulis. Menulis itu bagi saya mengalir, pandangan, opini, protes, sanggahan, ungkapan, cerita, cara menilai, segala hal suka dan tidak. Awal mula menulis adalah sebuah keinginan. Keinginan untuk bercerita. Banyak hal yang bisa kita bagi kepada orang lain. Saya yang termasuk tertutup—merasa seperti memiliki tempat untuk berbagi, bercerita dan merenung. Dengan menulis saya sungguh merasa lega. Tetapi saya cendrung tidak suka menulis buku harian, seperti kebanyakan orang. Ketika saya merasa menulis merupakan cara yang tepat untuk mengungkapkan—berekspresi dan protes, sejak itulah saya merasa ini adalah saya. Begitu idealis bukan?

***

Gaya penulisan timbul karena kebiasaan. Mengasa untuk terbiasa memang tidak mudah, apalagi terkadang rasa malas dan takut yang menjadi momok paling utama. Ini yang menjadi penghambat saya. Terutama untuk hal yang meyangkut dengan ide dan mengawali penulisan. Rasa ragu dan bimbang memulai merupakan hal wajar. Apalagi bagi pemula seperti saya—dan itu bukan harga mati yang membunuh sebuah kreatifitas. Intinya, semoga saya mampu berkembang pada dunia ini. Tentunya dengan proses pembelajarandan berjalannya waktu yang mendidik saya untuk terus belajar.

Bukan hanya itu saja, menulis itu seperti becermin. Apapun bentuk tulisan yang kita buat adalah pencerminan bagi diri kita sendiri. Menulis itu luas—seluas sudut pandang serta ide yang kita gunakan. Menulis itu bebas tapi terikat—yaitu kita bebas mengeluarkan ide yang kita miliki tetapi kita tetap terikat dengan peraturan tata bahasa, etika penulisan dan lain sebagainya.

Dan tentu saja, setiap hal ada yang pro dan kontra, kritik dan saran seperti halnya kita menulis juga seperti itu. Kritikan itu bagi saya pedas manis (seperti yang pernah saya tulis sebelumnya), dan dengan kritikan itu yang memacu saya untuk lebih kreatif dan terus belajar. Secara pribadi, saya lebih sering mendapat ide menulis dari kisah-kisah sekitar maupun pribadi. Tentu saja yang menarik menurut saya. Memang belum begitu banyak kisah yang saya gambarkan melalui menulis. Inilah awal saya terbiasa untuk menulis. J

***


Posting Komentar