Minggu, 22 Juli 2012

Celotehan Tentang Cinta

Mengejar Cinta Setengah Inci

"Eh, lo pikir gampang buat gue bisa deketin dia" ucapku penuh semangat.
"Ahh, lo kan ratu nikung. Gak mungkin lo lewatin kesempatan deket dengan dia" sahut Eca belagak menasehati aku.
"Gue emang ratu nikung, tapi itu dulu. Semenjak gue kenal dia. Dan dia nyuekin gue, gue merasa dialah orang yang gue cari selama ini" Dengan bergaya agak sedikit centil.
"Jadi lo dah tobat neh, ceritanya?" Eca bertanya kembali dengan nada yang begitu penasaran.
"Bukan tobat sih, lebih tepatnya aku mau berubah. Diawal ini cuma berubah untuk masalah Cinta. Kedepan gue tentu bakal merubah hal lain." Aku menjawab dengan santai.
"Ah, lo mah cuma bisanya soal cinta. Untuk hal lain gue masih belum percaya" Eca menunjukan ekspresi tetidakyakinannya terhadap aku.
"Ya terserah lo. Yang penting saat ini gue bukan ratu nikung lagi" Aku mempertegas kembali perkataan ku. Dan kembali meyakini Eca yang tetap saja tidak percaya.
"Ok, aku tunggu kabar lain yang mungkin bakal menjadi kejutan untuk gue" Eca pun berharap aku tidak main-main dengan perkataan tadi.

Aku memang pemuja lelaki, tetapi itu dulu. Aku sering memanfaatkan mereka untuk sekedar mendapatkan perhatian. Aku memang butuh itu, tidak lebih. Aku tidak meminta hal aneh dari mereka. Hanya mereka yang sering patah hati ketika aku menolak mereka. Mungkin kedekatan aku dengan mereka yang sering disalah artikan. Entahlah. Saat ini ketika aku ingin sekali mendapatkan seseorang yang aku inginkan, aku menjadi merasa aneh dengan sikapku sendiri. Ini tidak seperti biasanya.

**

"Ahh, Tomi ngapain kesini" keluhku dalam hati. Hati ini semakin tidak menentu ketika tomi hampir mendekat. Sedangkan Eca dengan penuh penasaraan melihat kedatangan Tomi. Sesekali Eca melihat aku dan kemudiam melihat kearah tomi. Eca tentu saja melihat aku menggerutu.

Hidupku seperti jungkir balik, perubahan sikap yang sangat aku rasakan semakin menjadi. Tomi sudah didepan mata. Namun aku begitu kaku. Seperti berada pada gundukan es yang tinggi yang membekukan seluruh tubuhku. Bibir pun turut keluh tanpa kata. Cinta yang selama ini aku kejar telah ada disampingku. Hanya berjarak satu inci. Begitu dekat dan nyata.

"Aya, ngapain lo ke diem, bengong, kaku gitu?" Eca pun memecahkan suasana hening kami betiga.
"...."
"Kenapa lo ya'?" tanya Eca kembali.
"Eh, iya aku gak apa-apa" Eca benar-benar memecah lamunanku dan berhasil membuat aku bersuara. 
"Liat dong disebelah lo ada siapa?" Eca pun mulai mempertegas bahwa Tomi telah berada disampingku.
"Iya" Sahut ku dengan begitu singkat.
"Jadi lo mau anggurin dia, yang sudah disamping lo?"
"...."
"Ok, tom gue cabut dulu. Jaga Aya yah. Ya' lo jangan diem aja. Kemana Aya yang selama ini gue kenal" Eca pun perlahan pergi meninggalkan aku dengan Tomi.

"Aaaarrrggghhh..". Dalam hati aku berteriak. Mengapa harus sekarang?? Aku benar-benar mati kutu berhadapan dengan Tomi.

"Ya', lo kok diem aja?" ucap Tomi sambil tersenyum. Menambah pergerakan denyut jantung menjadi kian cepat.
"Hmmp.. iya.. Kenapa Tadi?" tanya ku kembali kepada Tomi. Saking sibuknya aku dengan hayalanku hingga konsentrasiku pun terbagi.
"Kamu ini lucu yah. Sebenarnya dari dulu juga aku sudah perhatiin kamu" ucap Tomi yang membuat aku semakin melayang.
"oh yahh" jawabku singkat.
"Cuma, hobi lo yang suka memberi harapan yang membuat gue mikir berkali-kali buat deketin lo"
"Tapi gue udah berubah Tom"
"Iya, gue tahu"
"Hngaaahh, maksdu lo?"
"Iya, gue tahu semua tentang lo dari Eca. Dia juga cerita perubahan sikap lo sekarang ini."
"Terus" ucapku singkat, karena aku benar-benar bingung harus berkata apa.
"Ya, gue sebenarnya dari dulu pengen deket ama lo. Hanya Eca nahan gue. Gue sebenarnya sepupu Eca."
"What??"

Sumber

***

Lagi-lagi berbicara tentang cinta. Bingung mengukur besar kecilnya cinta, sudah pasti bukan hanya saya, anda pun tentu begitu. Tidak ada yang bisa menebak berbentuk persenan ataukah bilangan. Bila kita ingin melihat sebuah ukuran ataukah kadar itu CINTA, mungkin makna cinta jadi tidak begitu tulus. Jadilah cinta dalam sebentuk ukuran bukan menjadi tujuan untuk meraih makna seungguhnya CINTA.

Cinta mampu membuat kita tersipu malu. Cinta juga mampu membakar emosi. Untuk postingan kali ini ingin sekali membahas tentang "Kadar Cinta". Untuk usia mendekati seperempat abad. Tentu saja pandangan tentang sebuah kata C.I.N.T.A akan berbeda ketika masih remaja. Yah getir-getir sudah tentu ada, terlebih kegelisahan itu datang dari orang lain yang melihat kita. Ini bukan sebuah kebetulan ataukah telah menjadi kebiasaan hidup. Bahwa orang yang belum menikah (perempuan) dicap "gak laku" ketika usia hampir mendekati usia kritis 30 tahun. Saya tentu memandang sinis terhadap ucapan mereka. Mereka hanya bisa berkata, karena mereka termasuk orang yang tidak merasakan. 

Tiada seorang pun yang ingin di cap seperti itu, namun bagaimana pun keadaannya saya masih tetap percaya jodoh, rezeki, usia itu sudah ada yang mengatur. Istiqomahkan cinta, sesuai jalan yang dikendaki oleh Allah. J Mengapa saya mengangkat tema "Mengejar Cinta Setengah Inci", sebenarnya ini hanya sebuah kamuflase sehingga cinta itu terlihat lebih dekat (setengah inci). Yaps, cinta yang sangat umum menjadi terlihat mudah untuk diraih.

Selamat meraih cinta setengah inci!!

Posting Komentar