Minggu, 22 Juli 2012

Celotehan ku tentang: Hikmah Cermin

Cermin yang paling jujur adalah perjalanan hidup.

Kesalahan adalah hal yang lazim dilakukan oleh setiap orang. Apapun bentuk kesalahan, besar dan kecilnya tetap sebuah kesalahan. Memperbaiki sebuah kesalahan juga tidak mudah dilakukan. Proses dimana kita dilahirkan, dibesarkan dan lingkungan sekitar kitalah yang menentukan pembentukan diri serta mental setiap individu. Sikap yang terbentuk berawal dari sebuah karakter serta pembawaan sejak kita dilahirkan. Kita wajib mengakui itu, bahwa karakter kita ditentukan oleh lingkungan. Kehidupan ini adalah cermin bagi kita. Kehidupan yang tidak sempurna membuat kita memilih untuk berjuang, memahami serta bersikap untuk lebih dapat menerima segala bentuk permasalaan.

Cermin itu perlu dalam kehidupan, bukan saja untuk memperhatikan bayangan diri kita, namun mampu menyadarkan kita dalam ketidakelokan pada diri kita tatkala bercermin. Sejauh apapun perjalanan yang telah kita tempuh, akan membawa sebuah kenangan yang mau tidak mau akan terpatri. Jika kenangan itu baik, maka akan baik yang tercipta. Bila kenangan itu buruk, jadilah sesuatu yang tidak ingin kita ingat kembali.

Sebaik-baiknya kita bersikap, tentu saja ada sisi buruk kita berucap. Saya mengakui itu adalah sebuah kekhilafan. Sebenar-benarnya, saya bertingkah-laku belum tentu orang lain sependapat dengan apa yang saya pikirkan. Benar dan salah setiap tindak tanduk kita tergantung dari cara pandang dan pendapat tiap orangnya.

***

Kematian merupakan takdir yang telah ditentukan. Ini akan mengingatkan bahwa kita terlahir, hidup dan berkembang, segala sesuatu yang kita miliki adalah titipan. Tidak ada kegembiraan bila kita kehilangan orang yang kita sayangi. Setabah-tabahnya kita, tetap saja dalam kesendirian serta doa kehilangan itu tetap ada. Bercermin dalam duka, mampu menyadarkan saya bahwa hidup ini adalah kenyataan. Tidak ada yang mampu mendahului ketetaan Allah SWT. Mengikhlaskan seseorang yang telah tiada lebih baik dari pada kita menangisinya. Disini saya masih mampu berkata, walaupun saya sendiri masih sulit untuk menahan air mata ketika menghadapi berita duka.

Waktu yang terus berjalan ini adalah kesempatan, dimana kita memperbaiki segala gelap dan terang hidup kita. Episode kehidupan yang telah terjadi menjadi memoar yang mungkin saja terlupakan. Tidak semua bisa terpatri dengan indah dalam ingatan. Seringanya kerapuhan kita melangkah untuk meraih ridho ilahi. Maaf yang kita ucapkan belum tentu menghapuskan segala khilaf yang terjadi.




http://4.bp.blogspot.com/_kXWrsVtmw0A/TLR-4vOHQBI/AAAAAAAAINo/NfV4hZRK7mA/s1600/kartun%252Bakhwat.jpg
Sumber      







"



Cara+lukis+kartun+wanita+bertudung - 3182171796 D915c03c02
Sumber



"Nafas akan terhenti, tanpa ada yang mengetahui kapan itu akan terjadi"
Posting Komentar