Sabtu, 28 Juli 2012

Bercermin pada sebuah keputusan


Penuh Tanda (?)

Aaaarrrgghh, ketika ide begitu dengan indah menari dalam alam pikiran saya. Namun blog saya tidak bisa untuk buat postingan baru. Jadi tulisan ini saya tuliskan dulu di m.word. Nanti kalau blog saya sudah membaik langsung saya posting dalam blog. Bingung kenapa tampilan blognya tidak ada tulisan, hanya ada gambar-gambar yang saya posting saja.

Apakah karena jaringan?

 Ataukah kesalahan pada diri saya?

Atau juga blogspot memang sedang tidak bisa dibuka?

Ini sebuah tanda tanya kecil dalam benak saya. Semoga saja ini hanya masalah jaringan saja. Amin.

***
Saya mungkin punya pendapat sendiri tentang bagaimana untuk menentukan pilihan, walaupun pilihan itu juga terkadang sering terjebak dengan masalah atau malah gagal. Namun karena pilihan itu adalah kehendak kita, tentu kita sendiri yang harus mempertanggungjawabkan pilihan itu. Terkadang juga berpikir, apakah ini sebuah takdir yang telah digariskan kepada saya? Setelah itu saya berpikir kembali, apakah kegagalan itu sebuah bentuk teguran kecil dari Nya? Semua kenyataan yang kita jalani tidak semua mulus serta lancar seperti jalan tol (jalan tol juga bisa padat merayap kan,hehee..)

Berbicara tentang pilihan, apa saja bentuk pilihan-pilihan dalam hidup? Banyak sudah pasti. Namanya juga pilihan tentu lebih dari satu. Lain orang tentu lain juga kebutuhan. Begitu juga dengan pilihan dalam hidupnya.
Pilihan yang pernah saya hadapi salah satunya, mengikuti perkataan orang tua meskipun permintaan itu berlawanan dengan keinginan. Ini merupakan sebuah pilihan yang tidak terlihat. Pilihan yang berbentuk keinginan. Bila dihadapkan seperti ini tentu sulit, namun juga bila kita tidak mengikuti keinginan tersebut kita musti mempunyai alasan yang tepat sasaran, sehingga tidak melukai hati orang tua kita. Karena belum tentu pilihan kita adalah benar dikemudian hari. Naaahh, yang telah saya jalani adalah ternyata setelah mengikuti pilihan orang tua, dikemudian hari saya mendapat hambatan. Orang tua yang mengetahui hal itu.

Setelah orang tua saya mengetahui hal tersebut, beliau merasa bersalah. Dilema. Hati saya semakin terasa teriris dan diberi air jeruk, sangat pedih. Saya berusaha membesarkan hati beliau, namun pendapatnya tetap sama. Berpendapat, bahwa beliaulah yang salah atas pengaruhnya ketika saya menentukan pilihan. Entahlah, saya tidak mencari siapa yang salah dalam hal ini. Mungkin ini adalah takdir yang harus saya jalani.
Kehidupan ini penuh tanda (?)

***


Posting Komentar