Jumat, 19 Oktober 2012

Kepingan Masa Lalu

Pernah aku melihat sebuah album foto yang sempat menghilang entah dimana. Ketika album itu telah berada dalam genggaman pikiran ini menerawang jauh akan sebuah kenangan. Kenangan aku dan kamu. Memang tiada foto kebersamaan kita berdua, mungkin dahulu aku yang masih enggan mengabadikan kebersamaan kita pada sebuah memory bergambar. ;p

Aku mungkin merindukan kamu saat itu, rindu yang belum terjawab dengan pasti ujungnya. Berharap penuh agar bisa bertemu dengan mu berbagi akan rasa yang sempat aku pinggirkan. Aku tidak tahu bagaimana dengan perasaan kamu kepada aku, yang ku mengerti keadaannya kamu telah memiliki kekasih yang kini menjadi pendamping hidup mu. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk merusak semua yang telah ada. Sebagai manusia aku hanya ingin merasakan ketenangan bathin. Tanpa menodai makna dibalik keinginan itu aku menarik diri untuk tetap bertahan pada perasaan ini. Berusaha menghargai kenyataan ini.

Dalam hati kecilku tersimpan sebuah tanda tanya? namun bibir ini terasa keluh untuk bertanya. Waktu yang membuat semua pertanyaan ini hingga tumbuh subur. Meskipun aku sempat berlabuh pada hati lain. Semua tak mampu mengikir tanda tanya ini untuk mu.

Kemarin adalah waktu yang tepat untuk kita berbagi. Apapun alasanmu ketika itu, aku senang. Kamu menegur aku di salah satu socmed. Sapaan yang ringan tapi mampu memberi getaran yang hebat. Aku memutar kembali ingatanku kembali ke waktu itu. Tak pernah aku bayangkan ternyata hari itulah menjadi jawaban untuk segala pertanyaan di dalam hati kecilku. Disini aku katakan, menghindar untuk menerima telpon dari kamu hanyalah caraku untuk menahan diri dari rasa sedih. Aku tidak ingin tangisku terdengar. Itu saja. Ketika itu kamu membahas teman-teman lamaku. Sempat menjadi gejolak dalam bathin mengapa harus hal ini yang dibahas? ingin rasanya aku berkata saat itu pada kamu, aku lelah mmbahas ini! Namun aku mencoba menghargai itu. AKu mencoba mendengar semuanya hingga jelas.

Kesimpulannya, masa lalu yang telah terjadi penuh kesalahpahaman mungkin karena komunikasi kita yang kurang baik. Aku yang sering memilih untuk diam dari pada menjelaskan toch pada akhirnya aku tidak dipercaya. Kamu tahu, ketika itu aku begitu sakit. Sakit karena kamu ternyata lebih percaya dengan teman-temanmu ketimbang percaya denganku.  Sebuah hal yang pasti ketika itu, EGO kita yang masih membela teman masing-masing. Sehingga perasaan kita kesampingkan. Dan yang mengerti perasaan serta keinginan aku ketika itu hanyalah aku, terserah pendapat orang seperti apa, karena ketika itu aku tidak berpaling kepada siapapun seperti dugaan kamu.

Aku mengerti sekarang, setiap cerita dalam kehidupan tentu memiliki arti sendiri. Ia akan menjadi tepat ketika kita menyadari bahwa kenangan itu mengiring kita pada sebuah titik yaitu kedewasaan. Aku senang pernah menjadi bagian dalam hidupmu, aku juga akan jauh bahagia bila kini kita menjadi saudara. :)


  
"Pergi darimu ternyata bukan cara yang tepat menjauhkan kamu dari pikiranku, ternyata berbicara dari hati kehati walau hanya sebentar namun memiliki arti"

"Biarlah kepingan masa lalu itu aku simpan, untuk menjadi kenangan ketika kita telah renta kelak"

di ambil dari postingan note FB ku. 

Posting Komentar