Rabu, 06 Juni 2012

Menentukan Pilihan

Kehidupan yang terus berputar, layaknya kincir angin yang berputar meineruskan tugas pada sebuah aliran air yang kemudian menimbulkan sebuah energi. Energi ibarat seperti semangat bagi manusia. Tenaga untuk bangkit dan menjalani kehidupan. Permasalahan kehidupan tidak terbatas. Tidak hanya mengurusi sandang, pangan, papan. Kita hidup adalah kenyataan bukan pilihan untuk hidup. Tapi kehidupan ini penuh dengan pilihan. Suka tidak suka, mau tidak mau kita pasti akan memilih.

Kenyataan kita sebagai Warga Negara Indonesia, yang telah menikah atau telah berumur 17 Tahun (tujuhbelas) telah berhak untuk memiliki karti identitas, terdafatar sebagai pemilih. Dengan sistem demokrasi seperti sekarang ini anak-anak yang baru melepas masa remaja, dan pada masa peralihan harus memilih Partai, Presiden dan Wakil Presiden, Anggota Legislatif Tingkat I dan II, Anggota DPD. Saya yakin bagi mereka yang memahami tugas sebagai pemilih, mereka akan memilih berdasarkan hari nurani mereka. Tetapi, segelintir anak-anak pada usia itu terkadang masih belum begitu paham tugas yang begitu terlihat mudah, tetapi berdampak untuk lima tahun kedepan. Alhasil, mereka hanya menjalankan tugas itu dengan apa adanya. Tanpa mengerti arti dari mereka memilih.

Merdeka!!

Sumber

Memilih bukanlah hal yang menyenangkan. Sulit sudah tentu. Khawatir akan pilihan pasti ada. Tetap saja, bila pilihan ada didepan mata. Pasti membingungkan. Lebih baik saya disuruh lari marathon keliling lapangan sampai lelah, ketimbang harus memilih sesuatu yang seharusnya tidak dipilih. Memilih antara menerima tanggung jawab baru (walau hati terasa berat) atau menjalani apa yang sedang dihadapi. Memilih untuk mendengarkan perkataan orang tua atau mendengar kata hati sendiri. Bagi saya sulit. Sama sulitnya ketika saya memilih untuk melabuhkan hati pada seorang pria, atau tetap untuk sendiri (curcol) J .




Sumber



Kesulitan ini bukan menandakan kita orang yang tidak punya pendirian. Tapi ini adalah cara kita dalam menghadapi suatu pilihan. Terkesan sangat dilematis, tapi bagi kebanyakan orang itu biasa saja. Memilih sebenarnya menguras emosi. Contoh kecil saja, ketika kita ingin membeli Gadget, terkadang kita telah mempunyai pilihan berdasarkan majalah, referensi teman, situs-situs penyedia artikel gadget, tetapi setelah kita melihat di toko yang dituju ternyata ada model atau merk lain yang membuat kita melirik. Yaps, pasti kita akan berpikir kembali untuk memilih yang mana.


Mari kita bercermin akan kejadian kecil yang kita alami. Masalah kecil (dalam hal menentukan pilihan) bila kita tidak selesaikan akan menjadi lebih besar, bergegas menyelesaikan itu agar tidak menimbulkan masalah yang lain. Buang rasa ragu sejenak. Biarkan alam pikiran bekerja. Berhadapan pada sebuah pilihan mengharuskan kita bersungguh-sungguh untuk berpikir. Sangat sulit untuk dipungkiri. Sebuah pilihan akan terlihat hasil dan kenyataannya pada kemudian hari. Tanpa mampu kita mengulangi pilihan itu.


Terlepas dari itu semua, pilihan itu indah akan indah pada waktunya, akan manis pada saatnya, akan menarik pada saat pilihan itu adalah tepat. Jangan menyesali pilihan kamu ketika pilihan itu salah, tapi berusaha untuk membuat pilihan itu menjadi lebih memiliki arti. 


***


Posting Komentar