Minggu, 04 Maret 2012

kritikan itu pedas manis

Berbagai macam pendapat akan suatu hal yang terjadi, terlihat, terdengar dan terasa. Semua itu tergantung bagaimana orang yang melihat, mendengar dan merasakannya, karena itu akan timbul berbagai jenis pendapat, baik itu pujian, sanggahan, kritikan, bahkan akan muncul opini yang baru. Keanekaragaman sudut pandang merupakan hal yang lazim didunia ini. Seperti peribahasa lama mengatakan " Rambut boleh sama hitam, tapi hati siapa yang tahu" dan beberapa Peribahasa lain yang bisa kita pahami salah satunya yang menarik hati saya yaitu Rupa seperti pulut, bila dimasak berderai. Marilah kita berpikir positif, kritikan itu akan menjadi baik bila kita bisa menyampaikan kritikan itu dengan benar, tidak menggurui atau memiliki dasar, serta alasan yang masuk dalam pemikiran kita.

Bila kita berbicara sebuah kritikan, tentunya keanekaragaman bentuk kritikan ini dilandasan oleh sebuah pemikiran, sudut pandang serta pemahaman setiap individu. Di zaman seperti saat ini, dengan mudah setiap individu bisa mendapatkan secara mudah informasi yang dinginkan. Kemudahan itu terkadang mengesampingkan sedikit paradigma lama, bahwasannya ilmu itu sangat mahal harganya. Ilmu bisa kita dapatkan dalam bentuk apa saja, terutama ilmu yang bisa kita dapatkan secara non formal.


Secara harfiah, Kritikan itu berasal dari kata kritik, menurut saya kritikan itu sebuah penjabaran seseorang secara kognitif, atau berasal dari sudut pandang pribadinya sendiri akan sesuatu hal. Kritik juga menjadi bagian dalam diri untuk menginterpretasikan apa yang ada dalam alam pikiran kita. Semakin sering kita menggunakan maka semakin bijak juga kita dalam memberi kritikan.

Kembali pada pembahasan awal, yaitu menurut saya "Kritikan itu pedas manis". Kritikan itu bisa terlihat manis bila segala aspek yang berpihak serta mendukung apa yang menjadi bahan perbincangan, karya atau opini serta fenomena yang terjadi saat itu. Dan lebih kepada dukungan yang tersaji dalam segala bentuk tulisan, lisan maupun secara visual. Menurut saya dikatakan pedas, bila segala bentuk tanggapan itu bersifat, memojokan, saling tuding, menyalahkan, bahkan saling menuntut atas nama kebenaran dan hukum.

Sesungguhnya saya sangat mengahargai, ketika orang lain memberi kritikan. Karena secara tidak langsung beliau telah perduli terhadap apa yang kita jalani. Sebagai contoh, tidak mungkin seseorang yang apatis tentang sebuah antologi akan mampu memberi kritikan terhadap hal yang berhubungan dengan sebuah karya antologi, kumpulan cerpen, puisi serta musik. Tentunya kritikan itu ada untuk kita, disaat orang lain dengan sengaja atau pun tanpa sengaja melihat, memperhatikan, mendengar apa yang ada pada kita. Kritikan itu memang berasal dari bermacam-macam cara. Kritikan atasan ke pada bawahan, kritikan guru sebagai pendidik kepada muridnya, kritikan orang tua kepada anaknya. Kritikan kepada teman sejawat, dan lain sebagainya.

Kritikan itu ada dimana saja. Kritikan sebaiknya terjadi bila orang yang mengeluarkan kritikan mampu bercermin kepada dirinya sendiri. Agar setiap kritikan itu tidak menjadi boomerang dalam hidupnya. dan bagi saya, saya sangat membutuhkan kritika-kritikan yang mungkin sifatnya membangun, serta memberi pandangan baru kepada saya akan suatu hal. Bukan kritikan yang menjatuh tanpa ada dasar yang melandasi kritikan itu sendiri.


"Ciptakan kebersamaan itu berdasarkan perbedaan, baik itu perbedaan keyakinan, bahasa, suku serta sudut pandang kita"
"Dan marilah kita berjabat tangan untuk kebaikan bersama"

Posting Komentar