Minggu, 04 Maret 2012

Kidung Kehidupan


Kidung Kehidupan

Keresahan hati ini tidak bisa aku lukiskan lagi, begitu perih bila mengingat kekasih hati meninggalkan ku sendiri. Rasa bosan pasti menyerang dan kian menyengat perasaan yang masih berkecamuk dengan rasa perih yang tertinggal. Akhirnya aku pun mengganti nomor handphone ku. Hanya karena satu alasan. Aku tidak ingin komuniksi dengan dia (mantanku) kembali. Seperti biasa dengan nomor ku yang baru, aku pun menghubungi seluruh nomor di kontak handphone ku. Banyak obrolan ketika itu, dan aku pun bisa melupakan kegalauanku untuk sementara waktu.
Getaran HP pun selalu menjadi harapan ku dikala itu. Sebagai pengusir sepi, sambil menunggu sms dari teman-teman, aku pun mulai mencoba konten chat yang disediakan provider yang aku gunakan kala itu. Aku berkenalan dengan pria yang bernama Ryan. Awalnya sungguh aku hanya iseng, karena kegalauan aku dan rasa perih yang belum sembuh. Aku pun menghabiskan waktu dengan dia kala itu dengan konten chat. Semua berjalan seperti biasa Ryan pun bertanya hal yang biasa ketika dua pasang manusia saling berkenalan. Sampai akhirnya kami pun bertukar nomor handphone, dan kami pun mulai sering berkomunikasi.
Aku menyadari dunia maya sungguh kejam, entah mengapa kala itu aku percaya. Karena sesungguhnya aku merupakan orang yang tidak mudah percaya dan idealis, tidak mudah untuk jatuh cinta dan sangat pendiem. Itu semua masih terekam dalam ingatan ketika :
Dreett..dreeett..” bunyi HP yang sengaja aku silent.
“Hai…”, sms pembuka kala itu, tetapi karena sebelumnya aku dan Ryan sudah saling bertukaran nomor HP aku pun telah menyimpan nomor itu, hanya aku masih tidak percaya dia menghubungi aku. Aku pun hanya membalasnya dengan kata-kata dingin. Kemudian aku mematikan HP. Dua hari kemudian, dia kembali mengirimi aku sebuah sms yang penuh dengan kata-kata puitis, dan aku pun masih membalasnya dengan dingin. Seminggu kemudian dia menelpon aku, ketika itu aku masih di tempat kuliah ku.
“Haloo..”, aku pun berkata “iya, ada apa?”, dikejauhan dia menjawab “gak apa-apa pengen telpon aja, takut kamu bohong aja dengan identitas kamu”, aku pun mencoba mencerna suara dan gaya bicaranya, aku bingung dan mulia berpikir keras dank au pun berkata, “ suara kamu kok mirip cewek sih, aneh gitu?”, di kejauhan dia menjawab dengan nada yang sangat sensi, “ ihhh, apaan sih kamu, gag suka punya temen kaya aku, yang suaranya mirip cewek, emang aku suka punya suara kaya begini, beban tau!!”, ketika aku hendak menjawab, telpon pun dia matikan dengan tiba-tiba. Kala itu aku hanya meminta maaf lewat SMS, dan dia pun membalasnya dengan kata-kata penyesalan, karena baru kenal sudah menunjukan sifat aslinya. Hari pun terus berganti, dan kedekatan aku dan dia di dunia maya pun menjadi semakin erat, beberapa kali dia mencoba meyakinkan aku, untuk menerimanya, aku pun berat, tapi entah mengapa kala itu, aku menerimanya. Aku sadar, rasa perih aku dimasa lalu yang mendorong aku mencari kebahagiaan dengan cara yang berbeda, dan berharap hubungan ini akan jauh lebih baik dari sebelumnya.
Kemesraan ini hanya terjadi melalui ponsel aku dan dia, kami berpacaran dengan jarak, berkutat dengan jari jemari yang terus menari di atas keypad HP, malam merupakan yang kami nanti, untuk dapat bisa saling berbagi dengan jarak yang berjauhan. Dia menjelaskan kepada ku, siapa dia yang sebenarnya, dia pun bercerita tentang keluarga besar dan saudara kandungnya yang telah pergi meninggalkannya dan bundanya. Hanya bunyi suara dan keadaan disana yang bisa aku dengar, begitu juga aku disini. Permsalahan jarak pun sempat menjadi batu api dalam hubungan kami, sampai akhirnya dia hendak dijodohkan dengan anak sahabat bundanya. Aku pun galau kala itu. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bundanya meminta untuk perkenalkan aku dengan beliau, tapi karena jaraklah kami belum diberi kesempatan untuk bertemu. Dan karena itulah bundanya dengan sangat keras melarang hubungan aku dengan dia.
Aku bingung, entah apa yang ada dibenak ku saat itu. Hati yang baru sembuh dari luka, kembali terluka dengan cara yang berbeda. Aku pun meminta waktu untuk sendiri, memikirkan bagaimana cara terbaik, agar kedua belah pihak bisa menerima kenyataan ini. Dan aku mengambil keputusan untuk mundur kala itu. Disetiap perkataan aku mampu mengucapkan kata ikhlas, tapi dihati aku juga tidak mengerti apakah ini keikhlasan yang sesungguhnya. Semua yang kuawali dengan sebuah keisengan ternyata mampu menghasilkan rasa sakit yang begitu luar biasa hebatnya, ketika aku mengetahui hubungan yang tidak mendapat restu.
Dan hari yang itu pun tiba, acara pernikahan Ryan pun diselenggarakan dikediaman Ryan. Pagi-pagi sekali ryan menelpon aku, meminta doa dan restu untuk yang terakhir kali, sempat dia mengurungkan niat untuk lari dari acara itu. Tapi aku menahan dari kejauhan, member pengertian yang mungkin bisa membesarkan hatinya kala itu. Tepat jam 09.00 aku pun gelisah. Terbayang semua cerita tentang calonnya, yang pernah dia cerita kepada ku, cerita tentang anak angkat yang baru beberapa hari diadopsi.
Tepat jam 10.00, dia menelpon aku. Tetapi aku enggan untuk menerima telpon darinya. Aku hanya mengucapkan selamat kala itu. Walaupun perih itulah kenyataan. Aku hanya berharap semua akan menjadi lebih baik, jika dia bersanding dengan pilihan orang tuanya. Aku pun mulai menyibukan diri dengan segala kerjaan yang mampu menghilangkan perasaan galau ini. Menutup segala komunikasi untuk sementara dan handphone kala itu aku simpan dengan rapi. Tapi entah mengapa kegalauan aku semakin menjadi, tak kuasa aku menahan kerisauan itu, aku pun beranjak mengambila HP. Aku sungguh tersentak membaca SMS pertama, panggilan kami tidak berubah kala itu, walaupun dengan sadar dia bukan milik aku lagi.
“bie, istri aku meninggal di pelukan aku. Dia menitipkan bayi mungil itu dengan aku. Belum sempat aku membahagiakan istri aku, tapi dia telah pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya,bie. Walaupun aku tidak pernah menyayangi istriku seutuhnya, tapi aku bisa merasakan kesedihan yang amat dalam saat ini
Air mata pun mengalir dengan derasnya. Antara percaya dan tidak, tapi semua itu aku jalani apa adanya. Ternyata Meilinda Putri istri dari Ryan, telah meninggal dunia dua jam setelah acara pernikahan terjadi. Semua begitu menyesakan dada. Aku mencoba menelpon Ryan. Tapi percuma dia tidak mengangkat telpon ku sekali pun. Aku pun hanya sempat mengucapkan bela sungkawa itu melalui SMS. Duka mendalam itu tercipta setelah kebahagiaan beberapa saat direngkuh. Kubaca lagi SMS yang dikirim untuk ku.
“bie, ini SMS dari Mei untuk aku pagi tadi, “assalamualailkum yan, semua masih ada kesempatan, bila kamu masih ingin mengerjar dia menjadi milik kamu, kejarlah. Lupakan acara kita. Pergilah, jemput dia dan pertemukan dengan orang tua mu. Karena umurku pun tidak ada yang bisa memperkirakan, hanya Allah yang bisa member mukjizat untuk kesembuhan ku” ternyata ini bie. Maksud ucapannya dengan aku”
            Sejak aku terima SMS itu, aku tidak tahu apa yang haru aku lakukan, apakah aku harus bahagia diatas duka orang lain, apakah aku harus bersedih mendalam, sedangkan aku juga sedang merasakan rumitnya permasalahan ini. Entahlah, rasa ingin menyerah dari hidup. Dan hari pun berganti, empat puluh hari sudah semenjak meninggalnya almarhuma Meilinda, aku tidak pernah mengangkat telponnya, aku hanya meminta dia untuk tetap terus menyayangi Meilinda Junior, bayi yang diadopsi oleh almarhumah istrinya itu.
Hubungan aku dengan Ryan terjalin kembali, entah bermula dari mana. Hanya saja komunikasi kami kembali seperti dulu. Semua kebiasaan pun kami jalani bersama kembali. Suatu hal yang tak terbendung dihati ini, jika harus aku menjauhi dia. Walaupun semua yang berlalu masih membekas. Kami mencoba untuk menghilangkan itu, dan menganti hal yang lebih indah untuk kehidupan kami nantinya. 
            Tawa, canda kembali mengisi hari-hari kami, walaupun sempat ada percikan api kecil, tapi kami mampu memadamkannya kembali. Hubungan kami ini hanya berjalan jarak jauh, jarak jauh yang benar-benar jauh. Mungkin bisa juga dikatakan hubungan jarak jauh yang maya. Saat itu aku yang begitu percaya dengan sosok Ryan mulai kembali curiga dengan segala tingkah lakunya. Tapi dia selalu berusaha meyakinkan aku. Dan aku pun termakan dengan ucapannya itu.
            Selang waktu yang berjalan, disebuah jejaring social, aku berteman dengan seseoarng yang sama sekali aku tiadk mengenalnya. Tetapi aku sudah berteman. Dan aku selalu tahu apa yang sedang dia pikirkan, karena dia menuangkan itu dalam sebuah jejaring sosial. Dan kala itu, ryan bercerita tentang beberapa teman perempuannya, dan aku belum mencurigai secara mendalam kala itu. Dan dia juga bercerita bahwa konten dalam jejaring social itu milik bersama, dia dan beberapa teman-temannya. Aku selalu membaca kisah cinta mereka, permasalahn hidup yang mereka alami. Sampai disuatu saat, aku membaca catatan mereka, bisa dibilang catatan itu seperti buku harian mereka kala itu. Ketika aku membacanya. Entah mengapa aku berpikir ini adalah Ryan. Aku sangat yakin, bahwasannya Ryan lah yang menulis catatan tersebut. Aku sangat bisa membedakan cara penulisan masing-masing orang baik itu di SMS, amupun dimedia apapun. Karena setiap orang mempunyai gaya penulisan masing-masing.
            Foto-foto mereka terpasang dengan indah dalam catatan itu, seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang memadu kasih. Aku mengetahui benar bahwa foto-foto itu adalah perempuan dengan perempuan. Tapi aku belum berpikir bahwa itu adalah Ryan. Setelah aku membaca catatan mereka yang lain. Aku sadar bahwa selama ini yang dia ceritakan itu adalah dirinya sendiri. Dia telah membohongi aku. Dia memalsukan semua cerita agar aku percaya. Tapi mengapa aku sampai bisa percaya dengan itu semua. Semua kepalsuan, sandiwara yang direka dan dijalaninya sendiri. Hanya permohonan maaf yang dia ucapkan, tanpa sedikit pun mengerti bahwa ini adalah kebohongan yang luar biasa. Rasa sakit ini semakin menjadi ketika dia meminta maaf kepada aku. Dan aku hanya bisa terdiam memandangi catatan itu. Dan mengemasi segala serpihan hatiku yang telah hancur berkeping. Aku masih normal, masih menginginkan pria sesungguhnya mendampingi hidupku dan mengisi hari-hari ku.
            “pengalaman mengajarkan kita akan banyak hal, suka dan duka dalam sebuah pengalaman adalah kidung dalam kehidupan”


25 februari 2012,_
Posting Komentar