Sabtu, 10 Maret 2012

# Galau 2

Masalah itu datang tanpa diundang, bisa terjadi hanya karena kesalahpahaman, ketidakjujuran, kurang komunikasi, terlalu percaya, bahkan dari niat sebuah surprise pun bisa mengakibatkan sebuah hal yang fatal. Berbicara tentang kejujuran, di zaman dan dunia seperti sekarang ini, tidak perlu menafikan diri sendiri. terkadang untuk jujur itu sulit. Ini bukan karena terbiasa untuk berbohong. Tetapi adakalanya orang beranggapan, berbohong untuk kebaikan. Entah, saya harus percaya atau meyakini berbohong untuk kebaikan itu benar atau tidak. Saya yakin, orang baik sekali pun pasti pernah berbohong di masa hidupnya. Orang sejujur apapun secara lisan pasti pernah berdusta pada hati dan nuraninya sendiri.

Saya mungkin bukan orang yang baik, bukan bermaksud untuk merendahkan diri sendiri. Ini hanya bermaksud menyadari atas seluruh kesalahan dalam bentuk apapun itu. Karena kebaikan itu tidak dapat diukur atas sebuah prestasi, dari sebuah hitungan materi , apakah lagi dari sebuah akumulasi perjalanan hidup pribadi. Tidak selamanya berada pada lingkungan yang memahami kita, akan terhindar dari masalah. Apapun bentuk masalah itu, terlihat ataukah tidak tentu akan menjadi beban dan keresahan tersendiri. 

Semakin bertambah usia, saya menyadari batas permasalahan yang akan saya hadapi juga semakin meluas, lingkungan yang saya hadapi tentunya bukan saja seperti zaman sekolah atau anak-anak. Dahulu, semasa kecil entah dorongan dari mana, saya ingin sekali cepat merasakan namanya fase dewasa. Ketika pernah berkunjung ke salah satu kantor pemerintahan ingin seperti mereka, ketika berada pada sebuah Bank, ingin bekerja di Bank, ketika saya melihat sebuah acara televisi, banyak para model berjalan, saya juga ingin bisa seperti mereka. Lantas itu semua hanyalah rasa ingin yang begitu besar ketika masa kecil. Itu juga sebagian dari mimpi saya sedari kecil.

Ketika dahulu pun saya berpikir, menjalin hubungan (pacaran) saat dewasa mungkin indah, lebih berwarna, lebih serius, dan pasti lebih dari segala-galanya. Tetapi ketika saya menjalani masa ini. Semua berjalan sama. Tidak ada yang terlihat jauh berbeda. Hanya saja kedewasaan sikap yang dimiliki tiap-tiap orang tentu memiliki kadar yang berbeda. Huft, disaat telah memasuki pembicaraan masalah pasangan hidup. Mungkin bisa di bilang kurang beruntung(versi saya). Seringnya mendapatkan pertanyaan, "kapan nikah?", "sekarang pacarnya siapa?". Terkadang pertanyaan-pertanyaan itu membuat hati semakin galau. Ternyata inilah kehidupan fase dewasa. Fase dimana, kita akan menghadapi dan menjalani fase masa akan datang. Inilah masa yang menentukan akan seperti apa kita esok hari, akan seperti apa kita 10 tahun bahkan 30 tahun mendatang. 

Kehidupan memanglah seperti roda berputar. Semua itu juga memerlukan tahapan untuk kita menikmati hidup yang lebih baik. Tahapan itu sesungguhnya bisa dimulai dari kecil. tetapi tidak terlambat bila kita memulainya saat ini.



***


Semasa SMA, saya sering merasakan kejadian yang sama persis dalam dunia hayal ataupun yang pernah terlintas dalam pikiran saya. Entah, itu yang dinamakan Deja Vu.  Tetapi itu semua saya ingat setelah saya menjalani kenyataan itu beberapa saat. Alam sadar mengingatkan saya akan hal yang pernah saya jalani sebelumnya. Dan kejadian itu terjadi untuk beberapa kali. Bermacam kejadian dari sebuah pemilihan, berkumpul dengan teman sampai bermimpi sekalipun. Saya yakin, diluar sana banyak yang bisa merasakan seperti itu, bahkan jauh lebih sering dari saya. Dahulu ketika saya belum mengerti apa itu yang sedang terjadi, hanya menanggapi dengan perkataan polos. "kayanya sudah pernah seperti ini". 

Untuk penyebab mengapa itu terjadi, saya pun belum begitu memahaminya. Dan dari segala sumber yang saya temukan dari google. Setidaknya saya mendapat informasi bahwa Deja Vu itu pertama kali diperkenalkan oleh Emile Boirac yang merupakan seorang peneliti di bidang psikologi berkebangsaan Perancis. Untuk jenis Deja Vu itu sendiri terbagi dalam beberapa jenis, bisa dilihat Disini.


Di ambil dari Deja Vu

Setelah semakin tertarik dan penasaran dengan istilah Deja Vu kemudian terbacalah tentang Recognition Memory. Ini adalah sebuah jenis memori yang menyebabkan kita menyadari bahwa apa yang kita alami sekarang sebenarnya sudah pernah kita alami sebelumnya. Memiliki arti yang hampir serupa. ini bentuk fenomena yang terjadi dalam alam pikiran kita. Tentu saja, ini semua merupakan kuasa Allah SWT yang emmberikan kita akal serta pikiran untuk bisa merasakan segala sesuatu di dunia ini.

Di ambil dari Deja Vu


Dari berbagai macam fenomena alam pikiran yang pernah saya alami. Itu sudah membuat saya cukup paham. Bahwa kehidupan itu penuh dengan kejutan. Kejutan yang berasal dari mimpi, angan serta keinginan yang kuat hingga menjadi sebuah kenyataan. 

Nikmati kegalauan itu dengan positif. Jadikan itu sebuah pijakan untuk hari esok. Mari kita berDeja vu ria. heheee.... Untuk bisa merasakan hari esok pada masa kini. (emang bisa DejaVu diminta??)  *berpikir.keras.kembali*
;p
Posting Komentar