Senin, 13 Juni 2011

Perjalananku

 
Memulai kembali perjalananku disebuah kota di pulau sumatera, saat pesawat yang ku naiki telah mendarat sempurna, saat itu juga ku berpikir keinginanku untuk memulai hidup baru. Dengan langkah yang penuh keyakinan aku memesan taxi yang akan menghantarkan aku ke tempat penginapan yang sederhana tapi nyaman untuk ku. Setelah ku beristirahat sejenak. Aku pun mulai mencari yang sempat hilang dalam hidupku, yaitu kebebasan. Aku pun berjalan perlahan karena sungguh aku belum pernah ke kota ini. Aku pun berniat untuk berjalan ke sebuah pusat perbelanjaan yang termegah di kota itu, dengan tas kucel ku yang selalu ku bawa, aku pun mulai melihat kanan kiri untuk mencari tempat ku menemukan inspirasi, aku hanyalah penulis biasa yang selalu bermimpi untuk bisa menjadi seorang yang luar biasa. Kisah cinta yang sudah biasa menjadi tema para penulis seperti aku.

    Di tempat yang begitu ramai aku mulai memusatkan perhatian ku pada sepasang kekasih yang sedang bersenda gurau dengan mesranya saat itu. Tak ada hal yang aneh saat aku melihat pertama kali saat itu, kekompakan mereka membuat aku iri, tapi saat aku melihat teman-teman yang menghampiri sepasang kekasih itu, sedangkan aku hanya di temani laptop usang ku. Ku curi pandang sesekali ke sekitar ku, aku pun mulai terperangah ternyata mereka termasuk komunitas pasangan sejenis. Sebenarnya ini bukan hal asing bagi ku, tapi aku salut dengan keberanian mereka untuk bermesraan di depan umum. Kucuri-curi pandang sekali-kali kepada mereka. Sempat ku dengar obrolan meraka saat itu. Di balik tawa mereka saat itu ternyata kesulitan hidup mereka sama halnya dengan kita yang hidup normal seperti ini. Kupandangi di sudut lainya ada sepasang anak muda yang sedang asik bermain dengan laptop yang ada di depan mereka. Tanpa sedikit pun menghiraukan situasi saat itu yang begitu ramai.

    Aku yang saat itu hanya seorang diri di sebuah tempat yang tak pernah aku kunjungi sebelumnya, tanpa teman tanpa seorang pun yang mengenali ku. Hidup memang selalu berawal dari mimpi, tapi terlalu banyak mimpi yang kucurahkan melalui tulisan-tulisanku. Misi ku saat itu adalah aku harus biasa berkenalan dengan beberapa orang saat itu, siapa pun dia dan dari kalangan mana pun dia aku harus mempunyai teman. Dengan modal senyuman dan perkaataan yang basa basi aku pun berkenalan dengan sekelompok komunitas yang sempat mencuri perhatian ku. Mereka begitu manis menyambut awal perkenalan kami saat itu.

    Mereka pun mengajak aku untuk ikut dengan acara mereka nanti malam, aku yang belum meniyakan pun mulai merasa senang, karena dengan mudah aku bisa berkenalan dengan komunitas itu. Mereka sangat menghargai aku. Awal yang bagus untuk aku, karena aku seorang diri di tempat asing seperti ini. Tapi untuk sementara aku ingin melihat seperti apa pergaulan mereka, aku suka tantangan, aku suka persahabatan dan aku juga suka dengan tempat baru.

   Dengan perasaan yang cukup puas pada hari ini, aku pun izin balik ke hotel dengan teman-teman baru ku. Mereka pun menawarkan aku untuk menginap di tempat mereka. Tapi aku masih enggan untuk menerima tawaran tersebut. Ku mulai kembali melangkah dengan penuh percaya diri. Ku datangi warung kecil untuk mengganjal perut ku di hari pertama aku menginjak kota baru ini. Disaat aku sedang asik dengan hidangan yang ku nikmati, aku terkejut, pundak ku ada yang memukul, di pikiran ku saat itu, aku bakal di palak, ternyata mereka orang-orang yang baru aku kenal tadi mengikuti kemana aku pergi, karena mereka penasaran dengan orang asing seperti aku. Akhirnya kami pun makan bersama, tanpa sedikit kekakuan kami pun tertawa lepas, seperti telah berteman lama.

   Banyak hal yang ku dapat disini, tidak semua orang yang mampu membuat aku menjadi seperti saat ini, begitu terbuka dengan lingkungan baru ku. Kesederhanaan mereka serta penampilan mereka yang begitu sederhana yang membuat aku yakin mereka sesungguhnya orang baik, walaupun aku tahu kesalahan besar yang mereka lakukan, tapi itu juga hak mereka, pilihan hidup mereka yang menjadi kumpulan koleb. Dan yang membuat aku bangga kepada mereka, mereka begitu menghargai aku. Tak sedikit pun memberi pengaruh kepada ku.Ini hal baru dan nyata yang kutemukan dengan sadarku, ku bergabung dengan orang-orang yang jauh dari bayangan ku sebelum nya.

    Keesokan harinya aku kembali mengembara ketempat lain yang menarik dan pastinya mencuri perhatian ku untuk berada di sana. Di sebuah food court ke melihat seorang ayah bersama anak nya begitu mesra. Aku iri dengan keadaan itu, karena aku tak sempat merasakan kasih sayang orang tua. Nafas panjang pun ku tarik biar aku juga merasa tenang. Kupandangi sekitar tempat ku mencari inspirasi di balik keramaian saat itu. Walau pun sesungguh nya aku merasa sepi. Tersenyum kecil aku saat itu ketika seorang anak kecil menyuapi mama nya. Anak itu sungguh pintar dan sangat beruntung, di umur yang masih sangat belia dia begitu mendapat perhatian dari kedua orang tua nya, berbeda dengan aku, sejak terlahir di didunia ayah ku meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Ibuku pun sibuk dengan kesibukan nya, sehingga tak sedikit pun peduli dengan anak-anaknya, sampai saat ini pun aku jarang bertemu dengan ibu ku.

    Saat lamunan ku menjalar tentang kisah ku di masa lalu, aku kembali tersentak saat, seorang anak di gampar di depan orang ramai, setelah ku perhatikan ternyata anak yang bersama orang tua nyaitu, bukanlah anak nya, melainkan teman anaknya. Ahh..ternyata kita juga tak bisa melihat dari sisi luar nya saja, ku kira awalnya mereka adalah bapak dan anak, ternyata sepasang kekasih yang sedang memadu kasih.tapi sial nya waktu itu mereka terlihat dengan anak nya yang jelas-jelas sahabat anaknya. Sungguh ironis kehidupan di dunia ini. Ingin sekali ku kiasakan semua kejadian yang ku lihat semua menjadi karya tulis ku tentang kehidupan di zaman yang semakin maju ini.

    Kututup dengan segera laptop usang ku. Ku kembali berjalan mencari tempat keramaian yang berbeda. Ku berniat untuk ke pasar tradisional, aku ingin melihat hiruk pikuk pasar, walaupun aku tahu, di keramaian pun aku juga masih merasa sepi. Ku mulai lagi perjalanan ku, dengan langkah yang sangat lambat aku mulai melihat-lihat bukan karena ada hal menarik perhatian ku, tapi aku lagi melihat situasi tempat baru ini, karena aku takut tersesat nantinya. Setelah berjalan sejenak ku melihat ibu-ibu yang cukup umur begitu gesit dengan tangan rentahnya memikul sebuah keranjang, ku ikuti beliau perlahan, aku ingin tahu apa yang sedang beliau bawa, karena aku melihat ibu itu sangat kelelahan, sudah 3 kali aku melihat ibu itu mondar-mandir serta kembali membawa keranjang yang sama dengan ukuran yang sama pula. Karena rasa penasaran ku itu, aku mencoba menghampiri ibu itu, tapi beliau enggan untuk aku ajak bicara, beliau begitu ketakutan ketika tahu aku mengikutinya. Aku pun semakin bingung, ku coba untuk melihat dari kejauhan, entah apa yang ditakuti ibu itu dari aku.

    Akhirnya aku tahu, beliau adalah buru di pasar itu, pekerjaannya mengangkat barang-barang pesanan dari konsumen di pasar, tapi yang jadi pertanyaan ku adalah mengapa ibu itu begitu takut melihat aku. Rasa penasaran ini yang mengantarkan aku untuk moncoba mendekati ibu itu dengan halus, akhirnya aku bisa berkenalan dengan ibu itu di sebuah angkutan umum, beliau banyak bercerita tentang kota ini, dari terutama tempat-tempat yang indah untuk dikunjungi, tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan itu, aku lebih tertarik tentang siapa sebenarnya ibu itu. Dia mngajak aku ikut kerumahnya. Tentu aku menolak, karena aku masih segan untuk terlalu jauh mengenal ibu itu, aku hanya berkata, dilain kesempatan aku akan main kerumah ibu itu. Beberapa hari kemudian, aku melihat seseorang yang hamper mirip dengan ibu yang ku temui dipasar tradisional itu, tapi aku ragu untuk menegurnya karena penampilannya begitu berbeda, ibu ini terlihat sangat rapi dan begitu terlihat seperti orang berada.

    Aku pun mengikutinya, dan aku melihat beliau menuju ke pasar tradisional itu, ibu itu pun masuk kesalahsatu warung yang ada di sana, dan beberpa menit kemudian, yang keluar adalah ibu-ibu yang aku jumpai kemarin. Aku yakin ibu itu sedang menyamar, tapi mengapa??. Aku pun menemui ibu itu kembali, tanpa ragu beliau membalas sapaan ku dengan ramah, aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepada ibu tersebut, tentang sapa dirinya, dan aku pun juga berkata aku melihat dia tadi pagi dengan keadaan yang jauh sangat berbeda dengan saat ini.

    Sumpah diluar dugaan ibu langsung menangis, aku jadi merasa bersalah dengan ini semua, tapi rasa penasaran aku mulai terobati dengan penjelasan ibu itu, aku kaget dengan segala cerita ibu itu. Beliau melakukan ini hanya untuk menjaga perasaan anak nya, ibu itu takut anaknya tahu apa pekerjaan ibu nya yang sebenarnya, ibu selalu menjaga perasaan anak nya, tapi anak terkadang belum tentu bisa menerima pengorbanan yang telah diberikan dari seorang ibu, inilah akibat nya bila anak selalu menuntut lebih dari ibunya, tapi mengapa ibu tersebut tidak mau mengakui dengan anak nya apa pekerjaan yang sebenarnya. Kebohongan akan menimbulkan kebohongan lain. Dan itu akan terus terjadi bila semua ditutupi dengan kepalsuan semata. Ibu itu sempat berkata kepada ku, suatu saat nanti beliau akan mengatakan kepada anaknya tentang pekerjaan nya. Semoga saja, anak nya bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya. Karena kasih sayang seorang ibu sungguh penuh pengorbanan.



dari facebook, 11 februari 2011,, 10:34
Posting Komentar