Sabtu, 25 Februari 2012

Celotehan ku untuk seorang teman

Mendengarkan orang lain bercerita adalah hal yang menyenangkan. Apapun itu bentuknya. Mulai dari hal serius, canda-tawa, sedih, semua itu menimbulkan kesan tersendiri. Ketika masa bercerita itu siap, angan dan bayangan tentang itu selalu membekas dibenak, berpikir keras akan hal baru saja saya dapatkan, mencerna kembali segala sesuatunya dengan tujuan untuk bisa mengendalikan diri dan menyimpan itu senua sendiri. Kesulitan untuk menjaga pesan yang sempat kita terima adalah hal sering semua orang rasakan. Kebiasaan mendengarkan dan berbicara itu yang terkadang membuat ita terjebak pada sebuah dosa manis. Yaaps, dosa yang kita sendiri lakukan tanpa sadar maupun dengan sadar.

Suatu saat, ketika siang hari, disaat saya pusing dengan segala macam beban dikepala. Seorang teman bercerita tentang hal yang beliau alami. Ketidaksanggupannya membuat saya berpikir keras untuk mengenyampingkan urusan pribadi saya, dan mencoba menjadi pendengar yang baik. Tidak cukup sampai disitu, ketika saya mulai ada kaitan dalam permasalahan itu. Saya hanya mengambil sikap dingin. Bukan untuk lari dari kenyataan. Tapi sekedar untuk mencerna dan memahami seluk-beluk permasalahan yang sebenarnya.

Saya sangat iba dengan hal yang sedang dihadapi, untuk seusia beliau yang mungkin masih jauh dibawah saya. Beliau masih terlalu muda untuk mencerna dan menganalisa keseluruhan, padahal itu semua untuk kebaikannya sendiri. Tapi saya juga salut pada beliau, karena mampu menungkapkan semua rasa tertekan dengan beberapa orang yang beliau anggap layak untuk memahami permasalahan itu. Menurutnya saya salah satunya, tapi saya tidak bisa membantu banyak, karena ilmu yang saya dapat selama ini, jauh berbeda. Maka saya hanya sanggup untuk membantu beliau secara moril.Semoga Beliau semakin kuat menjalani sisa hari. dan mampu memetik semua kesan yang mampu menguras emosinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. Tahukah anda, bagaimana cara menghadapi senior yang pintar? Tetapi sikap dan pendiriannya, sulit untuk anda tebak?
2.Bagaimana bila anda, dihadapkan dengan seorang senior yang lebih memprioritaskan RAS?
3.Apakah anda bisa menjadi senior yang baik?
4.Bagaimana anda menilai orang sekitar yang biasa berhadapan dengan anda?
5.Bagaimana bila junior yang anda kenal, jauh sebelum ada selingkungan dengannya dan dia begitu terlihat tidak menghargai anda?

Sedikit saya akan menutarakan pendapat saya, berdasarkan cara pandang serta pengalaman dan perjalanan hidup saya.

1. Saya sangat menghargai dan senang bisa mendapatkan senior yang pintar, tetapi pintar disini adalah pintar segalanya, pintar dalam bidang yang ditekuni, pintar bersosialisasi, pintar mengendalikan diri, pintar bersikap dan mampu menetapkan pendiriannya dan tidak semaunya. Mampu memberi masukan kepada junior dengan cara yang tepat dan berkesan. Bila saya berhadapan dengan seorang senior yang pintar, saya akan mencoba mengambil sisi positif pada dirinya, apa yang menurut saya itu pantas untuk diikuti. Walaupun secara pribadi, orang yang pintar sekali pun, bila kepribadiannya sulit untuk dimengerti, saya akan tetap menghargai beliau sebagai senior, tetapi saya akan tetap bertahan pada prinsip dan kepribadian yang telah tertanam dari saya kecil.

2. Saya tidak mengerti, mengapa kehidupan di jaman seperti ini masih tetap membedakan RAS, padahal kesempatan harus diberikan kepada oarng yang sesuai. Tapi, entahlah bila pada prakteknya ini masih menerapkan tradisi nenek moyang. Bila saya dihadapkan dengan hal seperti itu, saya akan mencari titik ukur lain, yang mana saya harus tetap menghargai, dan menghormati, bukan menjadi seseorang yang pesimis, dan merasa bahwa saya adalah orang yang tidak cocok untuk berada disini. Tetap berpikir positif, dengan segala ketidakcocokan atau ketidaksamaan itu. Walaupun terkadang RAS lah yang terkadang mampu menimbulkan konflik interen.

3. Pantaskah kita untuk di ukur menjadi baik, bila kinerja dan kontribusi kita belum memadai. Kata baik itu cukup sulit untuk dijabarkan. Maka dari itu, saya mengambil sebuah benang merah "Bila kita mampu menghasilkan ,membentuk pengetahuan, pengalaman dan kinerja seseorang yang lebih baik dari diri kita, maka itulah senior yang baik"

4. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME, saya bisa dan mampu menilai sesorang yang terlihat dari luar, yaitu sikap, kebiasaan, emosi serat tabiat yang terlihat di luar sadar manusia. Dan semua penilain itu hanyalah cara kita memandang orang lain. Bukan penilaian yang mutlak.

5. Jauh dilubuk hati, sebagai manusia biasa, tentu kekesalan pasti ada. Hanya saja saya akan tetap melihat sejauh mana beliau mampu bersikap seperti itu kepada saya. Karena bagaimana pun seseorang yang merasa bangga pada kehidupannya saat ini, merupakan orang yang cepat merasa puas.

Apapun yang menjadi kebiasaan tetaplah kebiasaan. Kita diberi kemampuan lebih sesungguhnya untuk berbagi, selayaknya bila kita mendapat rejeki yang lebih. Tetap semangat teman. Semua masalah pasti ada jalan keluar, bila kita mampu memaknai semua dengan pikiran jernih dan positif.

"Marilah kita berjabat tangan wahai saudaraku, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi hari esok. Mungkin aku sempat meminta maaf, mungkin saja tidak." 


Diambil dari JABATAN TANGAN

Posting Komentar