Tampilkan postingan dengan label fiksiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksiku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Juni 2013

Satu Hari Saja

Satu hari saja. Bagiku seribu tahun lamanya.

Kemarin. Aku dan kamu menyatukan sebuah rasa. Sebuah pengakuan tentang kasih sayang dan cinta. Di masa lalu telah lama kita bersama. Bermain, senda gurau, bercengkrama sebagai sepasang sahabat tidaklebih, namun tidak pernah sekali kamu mengucapkan rasa mu untukku. Mengapa? Ego.

Itu kelebihanmu, mampu menyimpan segala rasamu hingga kemarin. Hingga kamu menawakan aku sebuah kepastian lebih sekedar sahabat.

Mengapa baru kemarin kita bersama sebagai sepasang kekasih? Ah, penyesalanku menjadi doa untuk mu. Bahagia telah menjadi duka bagiku. Sehari bersamamu jauh lebih bahagia dibandingkan puluhan tahun kita bersama sebagai sahabat.

"Kita sepasang kekasih" Itu perkataanmu yang kuingat. Tapi itu seperti sebilah pisau yang menyayat hati saat aku mengingatmu telah tiada. Aku dan kamu kini telah berbeda alam. Semoga rasa yang pernah ada akan tetap sama. Sampai kita bertemu di sana. Kelak.

Kini. Aku memahami. Bahagia bukan berarti harus bersama. Cinta tidak selamanya bersatu. Sayang semestinya bisa menerima segala keadaan.

Aku merekam semua kisahmu dalam ingatan. Bukan untuk sekeda berlalu, tapi untuk sesekali aku putar dalam benak saat aku merindumu.

***

Rabu, 22 Agustus 2012

Kisah Cinta Tidak Pernah Mati

Diambil dengan izin si empunya cerita.

Sumber

Saya seorang wanita single. Pernah berpacaran namun hubungan kami harus berakhir. Beberapa kali yang telah saya alami seperti itu. Bagi saya dahulu, jarak bukanlah sebuah rintangan. Gaya pacaran jarak jauh beberapa kali pernah dijalani. Walaupun berbeda kondisi serta keadaan awal perjumpaan. Berkembangannya zaman semakin berkembang juga penggunaan bahasa di masa sekarang ini. Mungkin bisa di bilang saat saya sedang "Galau".

Kisah cinta sungguh tidak pernah mati untuk diperbincangkan. Saya pernah merasakan sesuatu yang mungkin bisa dinamakan "CINTA". Dahulu, ketika belasan tahun yang lalu saya mempunyai seorang pacar. Bagi saya beliau sangat masuk dalam kriteria pendamping saya.

Namun, kondisi di zaman dahulu masih ada perasaan malu, segan dan sifat pendiam yang sangat amat membuat saya menjadi asing bagi kehidupan pribadi. Singkat cerita hubungan itu berakhir, setelah menjalani hubungan sekitar 2 tahun.

Saya benar-benar kecewa saat itu. Kecewa pada diri saya yang tidak mampu mempertahankannya. Kecewa karena sifat serta sikap saya yang masih egois. Hasil yang saya terima adalah harus kehilangan orang yang saya sayangi.

Hari terus berganti, tanpa terasa saya memendam rasa hingga tiga tahun lamanya. Selama perjalanan waktu, saya pernah mencoba menghubunginya. Entah mengapa dia begitu dingin menanggapinya. Saat itu juga, saya mengemasi rasa rindu saya terhadapnya. Menyimpan serta menutup rapat perasaan itu hingga waktu berjalan 5 tahun.

Mencoba menemukan tambatan hati lain, saya rasakan percuma. Rasa yang begitu besar kepadanya membuat saya tidak tenang. Ingin sekali bertemu dengannya. Namun itu sia-sia. Semua hal yang saya lakukan untuk dapat berkomunikasi dengannya selalu saja ada halangannya.

Hingga pada suatu kesempatan, saya bertemu dengannya dipinggir jalan. Dia tersenyum pada saya, saya hanya terpaku dan malu. Begitu tangan kami saling berpegangan, saat itulah saya merasa sangat biasa. Tiada getaran, perasaan sayang yang dulu pernah ada ternyata hilang seketika oleh waktu. Saya hanya diam. Mencoba merasakan kembali kerinduan yang pernah di pupuk hingga tumbuh subur bertahun lamanya.

Setelah meyakini tentang perasaan ini telah biasa. Dia mencoba menghubungi saya kembali, dia  mengatakan bahwa masih menyayangi saya, dan tetap terus mencari tahu kabar serta apapun yang berhubungan dengan saya.

Hati kecil ini kembali sakit, sungguh perasaan ini dipermainkan oleh keadaan. Rasa sayang yang timbul dan tenggelam mampu mengobrak-abrik benteng pertahanan hati saya. Dan saya pun menangis kala itu.

Ada sesuatu yang menggumpal dalam hati, namun saya tidak memahami itu apa. Antara amarah, sayang, rindu menjadi sebuah rasa yang tidak menentu.

Dan kini, saya telah melihatnya bahagia bersama pilihan hatinya, mereka yang telah menjalani hubungan setelah perpisahan saya dengan dia. Yah, selama saya memendam rasa kemudian hilang sejenak dan muncum kembali tanpa diundang. Selama itu pula dia memiliki kekasih hati. Sedangkan saya terkatung tanpa kejelasan.

Semoga saja mereka bahagia. Kebahagiannya adalah kebahagian saya juga.

Sumber

Minggu, 22 Juli 2012

Celotehan Tentang Cinta

Mengejar Cinta Setengah Inci™

"Eh, lo pikir gampang buat gue bisa deketin dia" ucapku penuh semangat.
"Ahh, lo kan ratu nikung. Gak mungkin lo lewatin kesempatan deket dengan dia" sahut Eca belagak menasehati aku.
"Gue emang ratu nikung, tapi itu dulu. Semenjak gue kenal dia. Dan dia nyuekin gue, gue merasa dialah orang yang gue cari selama ini" Dengan bergaya agak sedikit centil.
"Jadi lo dah tobat neh, ceritanya?" Eca bertanya kembali dengan nada yang begitu penasaran.
"Bukan tobat sih, lebih tepatnya aku mau berubah. Diawal ini cuma berubah untuk masalah Cinta. Kedepan gue tentu bakal merubah hal lain." Aku menjawab dengan santai.
"Ah, lo mah cuma bisanya soal cinta. Untuk hal lain gue masih belum percaya" Eca menunjukan ekspresi tetidakyakinannya terhadap aku.
"Ya terserah lo. Yang penting saat ini gue bukan ratu nikung lagi" Aku mempertegas kembali perkataan ku. Dan kembali meyakini Eca yang tetap saja tidak percaya.
"Ok, aku tunggu kabar lain yang mungkin bakal menjadi kejutan untuk gue" Eca pun berharap aku tidak main-main dengan perkataan tadi.

Aku memang pemuja lelaki, tetapi itu dulu. Aku sering memanfaatkan mereka untuk sekedar mendapatkan perhatian. Aku memang butuh itu, tidak lebih. Aku tidak meminta hal aneh dari mereka. Hanya mereka yang sering patah hati ketika aku menolak mereka. Mungkin kedekatan aku dengan mereka yang sering disalah artikan. Entahlah. Saat ini ketika aku ingin sekali mendapatkan seseorang yang aku inginkan, aku menjadi merasa aneh dengan sikapku sendiri. Ini tidak seperti biasanya.

**

"Ahh, Tomi ngapain kesini" keluhku dalam hati. Hati ini semakin tidak menentu ketika tomi hampir mendekat. Sedangkan Eca dengan penuh penasaraan melihat kedatangan Tomi. Sesekali Eca melihat aku dan kemudiam melihat kearah tomi. Eca tentu saja melihat aku menggerutu.

Hidupku seperti jungkir balik, perubahan sikap yang sangat aku rasakan semakin menjadi. Tomi sudah didepan mata. Namun aku begitu kaku. Seperti berada pada gundukan es yang tinggi yang membekukan seluruh tubuhku. Bibir pun turut keluh tanpa kata. Cinta yang selama ini aku kejar telah ada disampingku. Hanya berjarak satu inci. Begitu dekat dan nyata.

"Aya, ngapain lo ke diem, bengong, kaku gitu?" Eca pun memecahkan suasana hening kami betiga.
"...."
"Kenapa lo ya'?" tanya Eca kembali.
"Eh, iya aku gak apa-apa" Eca benar-benar memecah lamunanku dan berhasil membuat aku bersuara. 
"Liat dong disebelah lo ada siapa?" Eca pun mulai mempertegas bahwa Tomi telah berada disampingku.
"Iya" Sahut ku dengan begitu singkat.
"Jadi lo mau anggurin dia, yang sudah disamping lo?"
"...."
"Ok, tom gue cabut dulu. Jaga Aya yah. Ya' lo jangan diem aja. Kemana Aya yang selama ini gue kenal" Eca pun perlahan pergi meninggalkan aku dengan Tomi.

"Aaaarrrggghhh..". Dalam hati aku berteriak. Mengapa harus sekarang?? Aku benar-benar mati kutu berhadapan dengan Tomi.

"Ya', lo kok diem aja?" ucap Tomi sambil tersenyum. Menambah pergerakan denyut jantung menjadi kian cepat.
"Hmmp.. iya.. Kenapa Tadi?" tanya ku kembali kepada Tomi. Saking sibuknya aku dengan hayalanku hingga konsentrasiku pun terbagi.
"Kamu ini lucu yah. Sebenarnya dari dulu juga aku sudah perhatiin kamu" ucap Tomi yang membuat aku semakin melayang.
"oh yahh" jawabku singkat.
"Cuma, hobi lo yang suka memberi harapan yang membuat gue mikir berkali-kali buat deketin lo"
"Tapi gue udah berubah Tom"
"Iya, gue tahu"
"Hngaaahh, maksdu lo?"
"Iya, gue tahu semua tentang lo dari Eca. Dia juga cerita perubahan sikap lo sekarang ini."
"Terus" ucapku singkat, karena aku benar-benar bingung harus berkata apa.
"Ya, gue sebenarnya dari dulu pengen deket ama lo. Hanya Eca nahan gue. Gue sebenarnya sepupu Eca."
"What??"

Sumber

***

Lagi-lagi berbicara tentang cinta. Bingung mengukur besar kecilnya cinta, sudah pasti bukan hanya saya, anda pun tentu begitu. Tidak ada yang bisa menebak berbentuk persenan ataukah bilangan. Bila kita ingin melihat sebuah ukuran ataukah kadar itu CINTA, mungkin makna cinta jadi tidak begitu tulus. Jadilah cinta dalam sebentuk ukuran bukan menjadi tujuan untuk meraih makna seungguhnya CINTA.

Cinta mampu membuat kita tersipu malu. Cinta juga mampu membakar emosi. Untuk postingan kali ini ingin sekali membahas tentang "Kadar Cinta". Untuk usia mendekati seperempat abad. Tentu saja pandangan tentang sebuah kata C.I.N.T.A akan berbeda ketika masih remaja. Yah getir-getir sudah tentu ada, terlebih kegelisahan itu datang dari orang lain yang melihat kita. Ini bukan sebuah kebetulan ataukah telah menjadi kebiasaan hidup. Bahwa orang yang belum menikah (perempuan) dicap "gak laku" ketika usia hampir mendekati usia kritis 30 tahun. Saya tentu memandang sinis terhadap ucapan mereka. Mereka hanya bisa berkata, karena mereka termasuk orang yang tidak merasakan. ♥

Tiada seorang pun yang ingin di cap seperti itu, namun bagaimana pun keadaannya saya masih tetap percaya jodoh, rezeki, usia itu sudah ada yang mengatur. Istiqomahkan cinta, sesuai jalan yang dikendaki oleh Allah. J Mengapa saya mengangkat tema "Mengejar Cinta Setengah Inci", sebenarnya ini hanya sebuah kamuflase sehingga cinta itu terlihat lebih dekat (setengah inci). Yaps, cinta yang sangat umum menjadi terlihat mudah untuk diraih.

Selamat meraih cinta setengah inci!!

Kamis, 21 Juni 2012

Dream Box


Aku obe, nama aku memang seperti cowok. Tapi aku sebenarnya adalah seorang cewek tambun. Namaku Obelikha Karunia Putri. Dahulu teman-teman sering menggoda aku dengan sebutan Obesitas, yah.. aku tidak pernah marah dengan mereka, karena memang seperti itulah aku apa adanya. Kebiasaan mereka dahulu menggoda aku yang membuat aku semakin percaya pada diriku sendiri. Cewek cantik itu tidak hanya terlihat dari fisik. Segala yang kita punya bila yakin. tentunya akan terlihat cantik. Aku senang menulis dan fotographi, aku juga suka musik. Dunia inilah yang membuat hidup ku sungguh penuh warna.
Menjadi anak tunggal bukanlah sebuah keinginan, tetapi ini karena kesehatan mama aku yang tidak memadai. Sesungguhnya aku ingin sekali memiliki adik, untuk teman tentunya. Aku tahu, sesungguhnya mama juga meninginkan itu. Yah sudahlah, itu sebagian kisah masa laluku. Kegemaran ku pada makanan membuat aku suka memasak. Dari kecil aku sudah hobi memasak. Sampai aku pernah beberapa kali mengikuti perlombaan memasak. Berarti tambah lagi hobiku menjadi menulis, foto, musik dan memasak tentunya. Dari hobi-hobi inilah aku memiliki banyak teman. Inilah dunia Obe.
Sehari-hari aku berkuliah pada jurusan yang jauh sama sekali dengan hobiku. Jelas saja, ini dikarenakan aku menyukai keanekaragaman.  Aku suka menoba hal baru. Tentu saja dengan pendidikan formalku di bangku kuliah saat ini, bisa menambah pengalaman dan pengetahuan ku.
***
Suatu pagi, angin bertiup begitu kencang, hujan pun enggan berhenti, rintikan hujan menenangkan aku. Aroma tanah yang sempat gersang menjadi kuyup dengan siraman yang begitu deras. Tiba-tiba sang petir seolah bersahutan, memaksa aku untuk tetap dirumah. Tidak melakukan apapun. Hanya ditemani segelas capucinno hangat.
Entah dorongan dari mana, aku pun tiba-tiba membuka sebuah almari, dan aku melihat sebuah kotak usang. “Ahhh, ini dia..”, “sudah lama aku cari..Dream Box”. Sejenak aku termangu. Berpikir keras, siapakah yang menyimpan Dream Box ku di sini.
Satu persatu aku mengeluarkan isi Dream Box ku, ingatan pun turut melayang pada ingatan masa lalu. Aku melihat sebuah foto, fotoku bersama Piyo. “Aku kangen kamu piyooo” sedikit berteriak aku mengucap nama itu kembali. Setelah sekian lama aku menyimpan itu dengan rapat. Rasa rindu itu semakin menjadi ketika masa lalu mengisi seluruh sudut pikiranku. “Yoo’, dimana kamu?”… “ini Dream Box kita yoo..”, hanya ini yang aku miliki, sebagai kenangan untuk kita. Foto-foto kita dari kecil hingga remaja.
Air mata ku pun tak terbendung lagi, sebuah ingatan kembali mengisi pikiranku, begitu jelas diingatan akan kecelakaan maut itu. Aku dan piyo tergeletak. Ketika itu aku sadar, dalam sakit aku memandangi sekitar, aku melihat piyo dari kejauhan. Piyo tidak sadarkan diri. Aku mencoba untuk bergerak, merangkak kearah Piyo namun aku tak kuasa. kemudian aku pun lupa apa yang terjadi setelah itu. Sampai akhirnya aku siuman. Dan dalam bisikan lembut. “Obe, ini mama…”. Dan mama pun berkata, “be, jangan tanya tentang piyo yah, dia udah tenang sekarang”.
Sejak perkataan mama itu, aku tidak pernah bertanya pada mama lagi. Walaupun aku berusaha mencari piyo. Bila dia telah tiada di mana makamnya. Aaargghh.. Sebuah jam tangan pemberian piyo mengingatkan aku kembali. Masa dimana kami selalu berangkat sekolah bersama. “Piyoo, maafkan aku, karena keegoisan aku dulu jadinya kita mengalami kecelakaan itu”. Dan akhirnya aku pun memeluk erat fotoku bersama piyo, aku memakai kembali jam pemberian piyo hingga aku terlelap dalam mimpi. Dalam hati pun aku berdoa untuk piyo.
***
Sore harinya, udara masih terasa begitu dingin. Sepanjang jalan banyak air tergenang dengan pola yang menarik. Kupandangi seluruh pola dan kuabadikan. Alam memang begitu indah, semakin indah bila kita mampu menggunakan itu sebagai sebuah karya. Beberapa sudut sekitar kompleks aku datangi. Basahnya dedaunan membuat aku begitu bersemangat. Mencari pembidikan yang tepat. Sepulang aku mengelilingi kompleks. Aku bertemu dengan mama.
            “Obe, besok kamu ada acara tidak?”,  “gak ada ma, kenapa?”. “Mama mau ngajak kamu keluar”, “Jam berapa ma?” Kalau pagi, obe gag bisa ma. “. ”Sore sayang, kamu ikut  mama yah..,mau kan?”. “kemana?” dengan nada yang begitu penasaran. “Bandara” jawab mama yang begitu singkat. “Mama mau kemana?”, tidak mama mau menjemput teman lama” sahut mama dengan nada agak sedikit berbeda. “iyah ma” dengan nada yang datar, walaupun sesungguhnya dibenakku menyimpan pertanyaan. Mama sedikit berbeda ketika ingin mengajakku ke bandara, tidak seperti biasanya.
***
Sesuai janji ku dengan mama, aku dan mama pun berangkat ke bandara. Di mobil, mama hanya terdiam dan sesekali tersenyum. Aku pun sesekali mencuri pandang ke mama. Sesungguhnya, aku ingin bertanya pada mama akan keberadaan Dream Box ku. Aku kembali memandangi mama dan menarik nafas panjang, memacu adrenalin untuk mengumpulkan keberanian berbicara pada mama. “Uuuuchh”….
“Ma..obe boleh Tanya sesuatu?” dengan perasaan tegang. “Kenapa sayang?” jawab mama ringan. Dengan perasaan lega aku pun kembali memulai pembicaraan. “Ma, mama yang nyimpenin  Dream Box  Obe yah?”, “hmmm…” mama terlihat kaget ketika aku berbicara tentang itu. “Makasih ya ma, itu semua kenangan Obe dengan Piyo, Obe kangen Piyo ma. Kangen dengan kebersamaan kami dahulu. Andai saja, obe masih ada pasti Obe dengan Piyo masih seperti yang dulu. Piyo selalu membela Obe ma, kalau teman-teman suka ngeledekin obe. Piyolah yang mengerti Obe ma”.
“Kamu suka dengan piyo,be?”, dengan nada yang sedikit menghibur. “Jujur obe suka sama Piyo ma, tapi Obe tahu, Obe suka cewek seperti apa”. “Yang pasti bukan seperti Obe ma”. Tandas ku dengan cepat. “Kok kamunya pesimis gitu? Kenapa?”, “ya iyalah ma, Obe ini gemuk, mana mungkin Piyo yang secakep itu mau dengan Obe, syukur-syukur dulu Piyo mau berteman dengan anak mama yang tambun ini,heheee…” aku pun sudah bisa tersenyum, walaupun masih terasa begitu pahit. “Ah, kamu bisa aja be, cintakan gag selamanya mandang dari fisik be!”.. Mama berusaha memberi pengertian padaku. “Huffft, lagian Piyo juga sudah tenang disana ma, mungkin ini takdir Obe untuk menyimpan semuanya, sulit mencari teman seperti Piyo ma”. PING!!, handphone mama pun berbunyi..
Pembicaraan aku dan mama pun terputus sementara, karena mama menerima telepon dari seorang teman. Terlihat mama begitu akrab menyapa. Aku pun kembali mendengarkan radio favoritku, sambil mengingat apa yang telah aku ceritakan dengan mama tadi. Bandara pun semakin dekat, dan aku pun belum mengetahui tujuan mama mengajakku kebandara.
***
Di bandara aku hanya terdiam, memperhatikan sekitar saja. Sedangkan mama sibuk menghubungi temannya tersebut. Aku menunggu sendiri. Menunggu mama yang sedang menjemput temannya itu. Sespecial apakah tamu mama? Entahlah. Aku menikmati keadaan sekitar. Setiap orang disekitar aku individualismenya tinggi. Mereka sibuk dengan gadget yang mereka punya. Sedangkan aku, dengan kamera mungil aku menyempatkan diri untuk mencari tempat untuk ku jadikan objek potret ku.
Tiba-tiba, dari kejauhan aku melihat mama dan beberapa orang disamping mama. Mereka tersenyum pada aku. Aku pun tersenyum manis melihat kehadiran mereka. Sesekali aku menjepret mereka dari kejauhan. Kupandangi kamera ku tapi aku benar-benar lupa. Siapa objek yang aku foto. Kecelakaan aku dan Piyo yang menyebabkan ingatan aku sedikit terganggu. Terkadang aku sering lupa dengan masa lalu, dan terkadang aku ingat hal-hal kecil yang terjadi dimasa lalu. Untuk kali ini aku benar-benar lupa.
“Obe, kamu masih ingetkan mereka siapa?”, dengan senyum sumringah mama kembali memperkenalkan aku dengan mereka. Aku pun hanya bisa tersenyum. “Obe apa kabar sayang?” seorang ibu sebaya dengan mama ku menegur aku penuh akrab, sambil menundukan kepala aku pun mencium tangan teman mama dan yang lainnya. Sampai saat aku bersalaman dengan seorang pria sebaya aku, yang aku yakin itu adalah anak dari teman mama.
“Aku Piyo be”, dengan nada yang begitu semangat. Aku sangat terkejut, rasa bingung, heran dan tidak percaya yang ada saat itu. Aku terdiam. “Bohong!!” lalu aku berlari, sambil memegang kepalaku yang sakit, semakin aku berusaha mengingat semakin terasa sakit. Aku benar-benar tidak percaya, kalau Piyo masih hidup. Mungkin aku bahagia karena aku bisa bertemu Piyo kembali.
Maret 2012


sumber

Kamis, 31 Mei 2012

Lagi-lagi Kamu

Ingin berbagi dengan kamu lagi,

"kamu tahu gak, bagaimana rasanya pahit di hati?","Pahit itu akan terasa ketika aku merasakan sayang pada kamu, kemudian kamu pergi dengan yang lain"."Pahit itu ketika aku mendapatkan rasa sakit yang sakit dari yang pernah aku rasa sebelumnya".

Huft, pasti kamu bilang aku garing?! Ia, aku tahu itu. Tapi sudahlah, kali ini aku ingin sekali bercerita. Kalau kamu bosen jadi tong sampah aku. Mending kamu cus (pergi) dari sekarang. Sebelumnya aku ingin bilang, kamu jangan sedikit pun beri komentar sebelum aku selesai bercerita. Gimana? Kamu mau kan?

Baik. Terima kasih kamu sudah mau jadi pendengar aku. Begini, kemarin kita sempat bercerita tentang "Dia". Kamu juga sempat adu argument dengan "Dia". Ketika itu aku ingin jujur ke kamu. Siapa dia yang sebenarnya, tapi kala itu juga aku berpikir. Kamu akan mentertawai aku. Tentu kamu tahu, kesalahan atau kebohongan kamu dulu seperti apa. Tapi dibanding itu, dia lebih menyakitkan aku. Kamu tahu mengapa? Semua ternyata hanya sandiwara terbesarnya. Sakit sudah tentu.

Kamis, 24 Mei 2012

Cerita Tentang Kamu

"Ketika bisa merasa, mengapa harus ada kehilangan"


Kamu, iyah kamu!!
Aku yakin kamu baik-baik saja, bahagia sudah tentu karena telah bersamanya. Aku, entah harus menggambarkan seperti apa tapi ini sungguh nyata aku alami. Aku bukan ingin mengusik yang telah lalu, hanya sekedar menyapa. Rasa rindu itu wajar. Tapi aku tidak ingin menyakiti siapapun, aku hanya ingin menyampaikan itu. Lelah. itu hal yang pasti saat. Kamu tahu, aku lelah untuk memulai.
Aku yakin kamu mempertanyakan mengapa? 
kamu sudah tentu mengerti aku.

Kamu, mengapa harus kamu!!
Sudah kesekian kali aku menyadarkan pikiranku dari keraguan. Tapi mengapa aku ingin bercerita barang sekali saja dengan mu.
Apakah kamu mau?, yah aku tahu kamu telah berpunya.
Tapi aku hanya ingin bicara. Ini tentang aku. Bukan tentang kita. Aku dan kamu adalah saat ini, tapi kita itu sudah masa lalu. Aku tunggu waktu mu. Sebisa kamu. Sekali lagi aku tidak bermaksud untuk merusak hubungan mu. Semoga kamu bisa.

Kamu, bukan tentang kamu!!
Setelah kamu tahu tentang itu, apakah kamu menyalahkan aku.
Bagaimana menurut mu?
Mengapa kamu diam seribu bahasa?
kenapa? Aku tidak butuh senyum kamu.
Aku butuh pendapat mu tentang itu. Aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Aku memang belum hilang akal. Tapi ini semua karena aku percaya kamu. Kamu tahu itukan.

Di ambil dari  Karikatur Hati


Ahhh, Aku kira ini nyata aku sedang berbicara dengan kamu. Aku menemukan foto mu. Foto itu tersenyum denganku. Ini seperti nyata. Sungguh, aku ingin berbagi dengan kamu.


Minggu, 04 Maret 2012

Kidung Kehidupan


Kidung Kehidupan

Keresahan hati ini tidak bisa aku lukiskan lagi, begitu perih bila mengingat kekasih hati meninggalkan ku sendiri. Rasa bosan pasti menyerang dan kian menyengat perasaan yang masih berkecamuk dengan rasa perih yang tertinggal. Akhirnya aku pun mengganti nomor handphone ku. Hanya karena satu alasan. Aku tidak ingin komuniksi dengan dia (mantanku) kembali. Seperti biasa dengan nomor ku yang baru, aku pun menghubungi seluruh nomor di kontak handphone ku. Banyak obrolan ketika itu, dan aku pun bisa melupakan kegalauanku untuk sementara waktu.
Getaran HP pun selalu menjadi harapan ku dikala itu. Sebagai pengusir sepi, sambil menunggu sms dari teman-teman, aku pun mulai mencoba konten chat yang disediakan provider yang aku gunakan kala itu. Aku berkenalan dengan pria yang bernama Ryan. Awalnya sungguh aku hanya iseng, karena kegalauan aku dan rasa perih yang belum sembuh. Aku pun menghabiskan waktu dengan dia kala itu dengan konten chat. Semua berjalan seperti biasa Ryan pun bertanya hal yang biasa ketika dua pasang manusia saling berkenalan. Sampai akhirnya kami pun bertukar nomor handphone, dan kami pun mulai sering berkomunikasi.
Aku menyadari dunia maya sungguh kejam, entah mengapa kala itu aku percaya. Karena sesungguhnya aku merupakan orang yang tidak mudah percaya dan idealis, tidak mudah untuk jatuh cinta dan sangat pendiem. Itu semua masih terekam dalam ingatan ketika :
“Dreett..dreeett..” bunyi HP yang sengaja aku silent.
“Hai…”, sms pembuka kala itu, tetapi karena sebelumnya aku dan Ryan sudah saling bertukaran nomor HP aku pun telah menyimpan nomor itu, hanya aku masih tidak percaya dia menghubungi aku. Aku pun hanya membalasnya dengan kata-kata dingin. Kemudian aku mematikan HP. Dua hari kemudian, dia kembali mengirimi aku sebuah sms yang penuh dengan kata-kata puitis, dan aku pun masih membalasnya dengan dingin. Seminggu kemudian dia menelpon aku, ketika itu aku masih di tempat kuliah ku.
“Haloo..”, aku pun berkata “iya, ada apa?”, dikejauhan dia menjawab “gak apa-apa pengen telpon aja, takut kamu bohong aja dengan identitas kamu”, aku pun mencoba mencerna suara dan gaya bicaranya, aku bingung dan mulia berpikir keras dank au pun berkata, “ suara kamu kok mirip cewek sih, aneh gitu?”, di kejauhan dia menjawab dengan nada yang sangat sensi, “ ihhh, apaan sih kamu, gag suka punya temen kaya aku, yang suaranya mirip cewek, emang aku suka punya suara kaya begini, beban tau!!”, ketika aku hendak menjawab, telpon pun dia matikan dengan tiba-tiba. Kala itu aku hanya meminta maaf lewat SMS, dan dia pun membalasnya dengan kata-kata penyesalan, karena baru kenal sudah menunjukan sifat aslinya. Hari pun terus berganti, dan kedekatan aku dan dia di dunia maya pun menjadi semakin erat, beberapa kali dia mencoba meyakinkan aku, untuk menerimanya, aku pun berat, tapi entah mengapa kala itu, aku menerimanya. Aku sadar, rasa perih aku dimasa lalu yang mendorong aku mencari kebahagiaan dengan cara yang berbeda, dan berharap hubungan ini akan jauh lebih baik dari sebelumnya.
Kemesraan ini hanya terjadi melalui ponsel aku dan dia, kami berpacaran dengan jarak, berkutat dengan jari jemari yang terus menari di atas keypad HP, malam merupakan yang kami nanti, untuk dapat bisa saling berbagi dengan jarak yang berjauhan. Dia menjelaskan kepada ku, siapa dia yang sebenarnya, dia pun bercerita tentang keluarga besar dan saudara kandungnya yang telah pergi meninggalkannya dan bundanya. Hanya bunyi suara dan keadaan disana yang bisa aku dengar, begitu juga aku disini. Permsalahan jarak pun sempat menjadi batu api dalam hubungan kami, sampai akhirnya dia hendak dijodohkan dengan anak sahabat bundanya. Aku pun galau kala itu. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bundanya meminta untuk perkenalkan aku dengan beliau, tapi karena jaraklah kami belum diberi kesempatan untuk bertemu. Dan karena itulah bundanya dengan sangat keras melarang hubungan aku dengan dia.
Aku bingung, entah apa yang ada dibenak ku saat itu. Hati yang baru sembuh dari luka, kembali terluka dengan cara yang berbeda. Aku pun meminta waktu untuk sendiri, memikirkan bagaimana cara terbaik, agar kedua belah pihak bisa menerima kenyataan ini. Dan aku mengambil keputusan untuk mundur kala itu. Disetiap perkataan aku mampu mengucapkan kata ikhlas, tapi dihati aku juga tidak mengerti apakah ini keikhlasan yang sesungguhnya. Semua yang kuawali dengan sebuah keisengan ternyata mampu menghasilkan rasa sakit yang begitu luar biasa hebatnya, ketika aku mengetahui hubungan yang tidak mendapat restu.
Dan hari yang itu pun tiba, acara pernikahan Ryan pun diselenggarakan dikediaman Ryan. Pagi-pagi sekali ryan menelpon aku, meminta doa dan restu untuk yang terakhir kali, sempat dia mengurungkan niat untuk lari dari acara itu. Tapi aku menahan dari kejauhan, member pengertian yang mungkin bisa membesarkan hatinya kala itu. Tepat jam 09.00 aku pun gelisah. Terbayang semua cerita tentang calonnya, yang pernah dia cerita kepada ku, cerita tentang anak angkat yang baru beberapa hari diadopsi.
Tepat jam 10.00, dia menelpon aku. Tetapi aku enggan untuk menerima telpon darinya. Aku hanya mengucapkan selamat kala itu. Walaupun perih itulah kenyataan. Aku hanya berharap semua akan menjadi lebih baik, jika dia bersanding dengan pilihan orang tuanya. Aku pun mulai menyibukan diri dengan segala kerjaan yang mampu menghilangkan perasaan galau ini. Menutup segala komunikasi untuk sementara dan handphone kala itu aku simpan dengan rapi. Tapi entah mengapa kegalauan aku semakin menjadi, tak kuasa aku menahan kerisauan itu, aku pun beranjak mengambila HP. Aku sungguh tersentak membaca SMS pertama, panggilan kami tidak berubah kala itu, walaupun dengan sadar dia bukan milik aku lagi.
“bie, istri aku meninggal di pelukan aku. Dia menitipkan bayi mungil itu dengan aku. Belum sempat aku membahagiakan istri aku, tapi dia telah pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya,bie. Walaupun aku tidak pernah menyayangi istriku seutuhnya, tapi aku bisa merasakan kesedihan yang amat dalam saat ini”
Air mata pun mengalir dengan derasnya. Antara percaya dan tidak, tapi semua itu aku jalani apa adanya. Ternyata Meilinda Putri istri dari Ryan, telah meninggal dunia dua jam setelah acara pernikahan terjadi. Semua begitu menyesakan dada. Aku mencoba menelpon Ryan. Tapi percuma dia tidak mengangkat telpon ku sekali pun. Aku pun hanya sempat mengucapkan bela sungkawa itu melalui SMS. Duka mendalam itu tercipta setelah kebahagiaan beberapa saat direngkuh. Kubaca lagi SMS yang dikirim untuk ku.
“bie, ini SMS dari Mei untuk aku pagi tadi, “assalamualailkum yan, semua masih ada kesempatan, bila kamu masih ingin mengerjar dia menjadi milik kamu, kejarlah. Lupakan acara kita. Pergilah, jemput dia dan pertemukan dengan orang tua mu. Karena umurku pun tidak ada yang bisa memperkirakan, hanya Allah yang bisa member mukjizat untuk kesembuhan ku” ternyata ini bie. Maksud ucapannya dengan aku”
            Sejak aku terima SMS itu, aku tidak tahu apa yang haru aku lakukan, apakah aku harus bahagia diatas duka orang lain, apakah aku harus bersedih mendalam, sedangkan aku juga sedang merasakan rumitnya permasalahan ini. Entahlah, rasa ingin menyerah dari hidup. Dan hari pun berganti, empat puluh hari sudah semenjak meninggalnya almarhuma Meilinda, aku tidak pernah mengangkat telponnya, aku hanya meminta dia untuk tetap terus menyayangi Meilinda Junior, bayi yang diadopsi oleh almarhumah istrinya itu.
Hubungan aku dengan Ryan terjalin kembali, entah bermula dari mana. Hanya saja komunikasi kami kembali seperti dulu. Semua kebiasaan pun kami jalani bersama kembali. Suatu hal yang tak terbendung dihati ini, jika harus aku menjauhi dia. Walaupun semua yang berlalu masih membekas. Kami mencoba untuk menghilangkan itu, dan menganti hal yang lebih indah untuk kehidupan kami nantinya. 
            Tawa, canda kembali mengisi hari-hari kami, walaupun sempat ada percikan api kecil, tapi kami mampu memadamkannya kembali. Hubungan kami ini hanya berjalan jarak jauh, jarak jauh yang benar-benar jauh. Mungkin bisa juga dikatakan hubungan jarak jauh yang maya. Saat itu aku yang begitu percaya dengan sosok Ryan mulai kembali curiga dengan segala tingkah lakunya. Tapi dia selalu berusaha meyakinkan aku. Dan aku pun termakan dengan ucapannya itu.
            Selang waktu yang berjalan, disebuah jejaring social, aku berteman dengan seseoarng yang sama sekali aku tiadk mengenalnya. Tetapi aku sudah berteman. Dan aku selalu tahu apa yang sedang dia pikirkan, karena dia menuangkan itu dalam sebuah jejaring sosial. Dan kala itu, ryan bercerita tentang beberapa teman perempuannya, dan aku belum mencurigai secara mendalam kala itu. Dan dia juga bercerita bahwa konten dalam jejaring social itu milik bersama, dia dan beberapa teman-temannya. Aku selalu membaca kisah cinta mereka, permasalahn hidup yang mereka alami. Sampai disuatu saat, aku membaca catatan mereka, bisa dibilang catatan itu seperti buku harian mereka kala itu. Ketika aku membacanya. Entah mengapa aku berpikir ini adalah Ryan. Aku sangat yakin, bahwasannya Ryan lah yang menulis catatan tersebut. Aku sangat bisa membedakan cara penulisan masing-masing orang baik itu di SMS, amupun dimedia apapun. Karena setiap orang mempunyai gaya penulisan masing-masing.
            Foto-foto mereka terpasang dengan indah dalam catatan itu, seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang memadu kasih. Aku mengetahui benar bahwa foto-foto itu adalah perempuan dengan perempuan. Tapi aku belum berpikir bahwa itu adalah Ryan. Setelah aku membaca catatan mereka yang lain. Aku sadar bahwa selama ini yang dia ceritakan itu adalah dirinya sendiri. Dia telah membohongi aku. Dia memalsukan semua cerita agar aku percaya. Tapi mengapa aku sampai bisa percaya dengan itu semua. Semua kepalsuan, sandiwara yang direka dan dijalaninya sendiri. Hanya permohonan maaf yang dia ucapkan, tanpa sedikit pun mengerti bahwa ini adalah kebohongan yang luar biasa. Rasa sakit ini semakin menjadi ketika dia meminta maaf kepada aku. Dan aku hanya bisa terdiam memandangi catatan itu. Dan mengemasi segala serpihan hatiku yang telah hancur berkeping. Aku masih normal, masih menginginkan pria sesungguhnya mendampingi hidupku dan mengisi hari-hari ku.
            “pengalaman mengajarkan kita akan banyak hal, suka dan duka dalam sebuah pengalaman adalah kidung dalam kehidupan”


25 februari 2012,_

Minggu, 12 Juni 2011

jomblo

JOMBLO  hahaa,, sebuah status yang telah lama aku pegang, awalnya ini adalah kemauan ku sendiri, karena aku ingin sedikit tenang dengan segala urusan permasalahan hati, menenangkan jiwa yang sempat berkecamuk untuk menentukan pilihan, sampai akhirnya aku memilih untuk sendiri. inilah pilihan aku yang sampai saat ini masih tetap bersama ku, walaupun banyak hal yang mengarahkan aku untuk mendapatkan pendamping hidupku. dan saat ini aku ingin menjadi seseorang yang sedikit berbeda, mendapatkan sedikit yang aku inginkan, bukan menunjukan keegoisan aku, tapi mudah-mudahan inilah pilihan terbaik untukku.
sekarang ini, mengapa hal yang sama selalu saja terjadi, ingin aku berteriak menceritkan segala keluh kesah dihati, menceritakan segala ingin ku, mencerna segala hal akan aku hadapi dihari esok. Sekilas, mungkin untuk asmara aku bisa dikatakan orang yang kurang beruntung, Tapi disisi lain aku adalah orang yang paling beruntung, bisa merasakan kebebasan dimasa-masa kesendirian ku, tanpa ada yang menghalangi, membatasi segala hal yang aku lakukan. aku juga mempunyai teman-teman yang luar biasa yang masih tetap ada untuk aku berbagi.

JOMBLO hanya merupakan status yang membuat kita sadar, bahwa kita tidak mempunyai pasangan. dan kini aku ingin menemukan soulmate ku, hhaaa.. Geli hati rasanya, disaat aku ingin mendapatkan seseorang yang menjadi pilihan hati, tidak seorang pun yang mendekatiku saat ini. untuk sebuah alasan kesibukan sebenarnya itu alasan yang sungguh dibuat-buat, karena aku bukan orang penting, yang mempunyai kesibukan yang luar biasa, mungkin aku hanya kurang bergaul, hahah.. Mengakui hal itu aku teringat memang akhir-akhir ini aku hanya sibuk dengan jejaring sosial. Tapi ini tidak pernah menghantarkan aku untuk menemukan soulmate. Dan aku tegas kan aku tidak ingin menemukan soulmate melalui dunia maya. Walaupun keseringan aku juga berbagi cerita dengan orang-orang yang aku kenal dengan baik.

Dengan besar hati aku sekarang menyerahkan segalanya pada Allah swt. sepenuhnya bukan karena ingin pasrah. tapi bentuk berserah diri. semoga nantinya kau menemukan jalan yang terbaik untuk ku.

Sabtu, 11 Juni 2011

the karikatur

tak ku mengerti...
meLewati hari-hari yang tak ubahnya seperti kegiatan yang tak ada habisnya yang musti dijaLani, bukan ingin mengeLuh tapi muLai merasa bosan dengan haL yang itu-itu saja..siapa sanggup hidup monoton yang tiada ubahnya dengan terkekang. semua tak ku mengerti awaLnya, bermuLa dari kebiasaan ku memandangi jendeLa di sekoLah ku dahuLu, ku perhatikan setiap orang yang lewat di jendeLa itu maupun pintu yang terkadang terbuka dengan sempit.
pandangan ku menjadi kebiasaan ku, tak hanya pada saat jam istirahat, jam peLajaran sekolah ku pun muLai kuLirik jendeLa serta pintu yang seLaLu mengundang rasa penasaran. ku perhatikan seseorang yang terlahir dengan tampang yang biasa, tapi mempunyai daya tarik yang Luar biasa. hahaa... entah mengapa aku terpanah meLihat nya yang seLaLu meLintasi keLas ku saat itu. yah, sebenarnya dia adaLah orang yang memang teLah ku kenaL sebeLumnya, tapi entah bagaimana aku tertarik saat meLihat nya saat itu,TERTARIK adalah kata yang mustiku garis bawahi ,semua ini adaLah tentang karikatur ku*..
tentang karikatur ku... 
panggiLan ku terhadapnya begitu saja mengaLir disaat aku muLai memberanikan diri untuk bercerita kepada sahabat yang seperti "tongsampahku" bagi ku, yang sangat setia mendengar segaLa keLuh kesahku. spontan saat itu aku menyebutnya karikatur, entah itu karna apa, mungkin saat itu aku sangat menyukai lagu dari satu band favorit ku,yaahh juduL lagu yang ku suka itu KARIKATUR. diseLa waktku bercerita dengan teman sekolah ku entah mengapa aku dan sahabat ku itu punya pendapat yang sama tentang karikatur ku, dan yang pasti sahabat ku setuju aku menjuLuki dia sebagai karikatur ku. waLau hanya dapat ku pandangi uLahnya,aku sangat senang,  setiap hari tanpa sengaja aku seLaLu meLihatnya, yapss karikatur ku itu seLaLu saja meLintas dikoridor keLas ku, dan yang haL aku Lakukan adaLah menyempatkan diri untuk memastikan apakah karikatur yang berada di koridor keLas ku itu. terkadang aku tertawa keciL meLihat gerak-gerik karikatur dan teman-temannya. buat ku ini udah cukup buat aku, karena aku hanya TERTARIK melihat karikatur. tapi dibaLik kata-kata tertarik tersebut harus aku akui, setiap aku mendengar lagu favorit ku, dibenakku terekam jeLas apa yang teLah aku Lihat sebeLumnya. hmm, semua begitu membingungkan saat itu..karna aku teLah*..
karna aku telah...
disementara waktu yang bersamaan aku memiLiki kekasih, sesungguhnya ini bukan niat untuk merusak hubungan ku sendiri,tapi iniLah pengakuan ku pada hati keciL ku, bahwa aku juga manusia biasa, yang bisa merasakan dan ingin merasakan apa yang orang lain rasakan, ini juga bukan bentuk peLarian ku karna hubungan ku yang muLai menjauh setelah ini berjaLan 2 tahun,karna jarang aku merasakan rasa "GEREGETAN" saat aku bersama kekasih ku itu. aku tak mengerti apakah ini adaLah awaL KEHANCURAN..semua kujaLani seperti sebuah kebiasaan yang sesunggunya tak ingin aku jaLani kehidupan yang begitu, seperti terpaksa namun aku tak mampu mengakui, MUNGKIN hubungan ku telah tidak Layak untuk dipertahankan, MUNGKIN juga karena keLUGUan ku saat itu, atau keEGOan ku..sesungguhnya ini bukan bentuk rasa keTIDAKSETIAAN ku..yapss dahuLu mungkin aku begitu,tapi aku gak bisa mengakui haL yang bukan menjadi bagian daLam diri ku yang  sebenarnya.. *dan kini..
dan kini...
semua yang teLah berLaLu tanpa disengaja kembaLi Lagi hangat daLam benak ku,semua yang duLu hanya rasa biasa kini menjadiLuar biasa dan sangat membingungkan, tanpa aku sadari ternyata aku kembali mengenaLnya, kini kian Lebih akrab, mulai saLing mengenaL pribadi masing-masing, tapi entah mengapa, rasa keTERTARIKAN ku dahuLu terhadapnya beLum mampu meyakinkan aku untuk bisa mengenaLinya secara nyata. berat rasa hati untuk menceritkan kisah ku duLu terhadapnya, enggan bibir ini untuk berkata, waLau hati muLai berkata perLahan, menunjukan bahwa aku sempat mengagumi sosok yang ku sebut dengan "karikatur". *andai saja..
andai saja...
angan ku sejenak kembaLi kepada masa LaLu, membayangkan biLa dahuLu aku teLah dekat dengan karikatur ku itu, andai waktu bisa mengembaLikan aku sejenak ke masa itu, takan pernah ku sia-siakan untuk lebih mengenaL dia. tapi itu hanya harap, karna pada kenyataan yang ku dapat sekarang adaLah keBIMBANGAN. dekat dengan karikatur ku itu, tapi hati masih bimbang untuk memuLai. masih meragu untuk bisa meyakinkan diri, bahwa rasa ini bukan rasa yang biasa.
* berharap.. 
berharap....
berharap tentu saja adaLah sebuah keinginan, keinginan juga membutuhkan usaha untuk mewujudkannya, wujud dari itu semua akan terekam daLam aLam fikiran yang teLah siap menerima kenyataan suka dan duka nya. bukan ingin mengaLihkan hidupku didunia yang sungguh jauh dari kata sempurna, ini bentuk ketuLusan yang ingin aku berikan, biLa karikatur itu miLik ku pasti ada jaLan untuk itu. semoga  saja.


>>09/02/11 dari facebook ku..